0

7 Faktor Umum Penyebab Motor Injeksi Brebet saat Akselerasi

Penulis: eno tjb
7 Faktor Umum Penyebab Motor Injeksi Brebet saat Akselerasi

BLOG.TRIBUNJUALBELI.COM - Motor dengan sistem injeksi memang dirancang untuk memberikan efisiensi bahan bakar yang lebih baik, tarikan yang lebih halus, dan emisi gas buang yang lebih ramah lingkungan.

Namun, meskipun teknologi injeksi sudah canggih, bukan berarti motor jenis ini bebas dari masalah.

Salah satu gangguan yang sering dialami oleh pengguna motor injeksi adalah mesin brebet saat akselerasi, terutama ketika gas ditarik tiba-tiba atau ketika motor dipacu dalam kecepatan tinggi.

Brebet ini ditandai dengan tarikan motor yang tersendat, suara mesin yang tidak halus, bahkan terkadang seperti kehilangan tenaga sejenak sebelum kembali normal.

Masalah seperti ini tentu sangat mengganggu kenyamanan berkendara dan, jika dibiarkan, dapat memicu kerusakan komponen lain.

Penyebabnya pun bisa bervariasi, karena sistem injeksi sangat bergantung pada kondisi berbagai sensor, suplai bahan bakar, hingga sistem pembakaran yang presisi.

Oleh karena itu, penting bagi pemilik kendaraan untuk memahami faktor-faktor umum yang menjadi penyebab motor injeksi brebet saat akselerasi, serta bagaimana cara mengatasinya secara tepat.

Berikut ini penjelasan lengkap dari tujuh faktor tersebut:

Baca Juga : Tarikan Motor Matic Terasa Berat? Ini 4 Modifikasi CVT yang Mudah Dilakukan

1. Injektor Kotor atau Tersumbat

Injektor adalah komponen utama dalam sistem bahan bakar motor injeksi yang bertugas menyemprotkan bensin ke ruang bakar secara presisi.

Deni
 
 
Motor Bekas Honda Beat FI Bekas Tahun 2013 - Cirebon
Rp 5,700,000.00
jawa-barat

Jika injektor tersumbat oleh kotoran, endapan, atau kerak dari bahan bakar yang tidak berkualitas, maka semprotan menjadi tidak merata atau kurang maksimal.

Akibatnya, saat pengendara membuka gas secara tiba-tiba, mesin tidak menerima bahan bakar yang cukup, dan muncullah gejala brebet.

Gejala ini semakin jelas terasa saat motor dipakai dalam kondisi menanjak atau membawa beban berat.

Untuk mengatasi hal ini, injektor harus dibersihkan secara berkala menggunakan alat khusus di bengkel resmi, atau melalui metode injektor flush yang bisa mengembalikan performa semprotan bensin ke kondisi optimal.

2. Filter Udara yang Tersumbat atau Jarang Dibersihkan

Filter Udara yang Tersumbat atau Jarang Dibersihkan

Filter udara berperan menyaring udara dari luar sebelum masuk ke ruang pembakaran.

Jika filter terlalu kotor atau tersumbat, maka suplai udara menjadi terbatas dan rasio udara-bahan bakar menjadi tidak seimbang.

Ketika mesin kekurangan udara saat pembakaran, maka performa menurun dan menyebabkan brebet saat akselerasi.

Ini sering terjadi pada motor yang sering digunakan di daerah berdebu atau tidak pernah membersihkan filter dalam waktu lama.

Untuk menghindarinya, bersihkan filter udara setidaknya setiap 3.000–5.000 km dan ganti jika sudah terlalu aus atau robek, sesuai dengan anjuran dari pabrikan motor.

3. Sensor Injeksi Mengalami Gangguan atau Malfungsi

Baca Juga : 6 Cara Mudah Bikin Tarikan Motor Matic Lebih Enteng dan Responsif

Motor injeksi sangat bergantung pada berbagai sensor seperti TPS (Throttle Position Sensor), MAP (Manifold Absolute Pressure), IAT (Intake Air Temperature), dan O2 sensor.

Sensor-sensor ini mengirimkan data ke ECU (Electronic Control Unit) untuk mengatur berapa banyak bahan bakar yang perlu disemprotkan dan kapan pengapian dilakukan.

Jika salah satu sensor mengalami gangguan atau memberikan data yang tidak akurat, maka perintah ke injektor akan salah, sehingga bahan bakar tidak sesuai kebutuhan mesin saat akselerasi.

Hal ini akan membuat motor terasa brebet atau kehilangan tenaga di putaran tertentu.

Untuk mengetahui kondisi sensor, perlu dilakukan pemindaian menggunakan alat diagnostic tool di bengkel resmi agar kerusakannya dapat diidentifikasi dan diperbaiki dengan tepat.

4. Pompa Bahan Bakar Lemah atau Tekanan Tidak Stabil

Pompa Bahan Bakar Lemah

Pompa bahan bakar bertugas menyuplai bensin dari tangki menuju injektor dengan tekanan yang konstan.

Jika pompa mulai melemah atau tekanan turun dari standar, biasanya sekitar 43–50 psi untuk motor injeksi, maka suplai bensin menjadi tidak cukup saat mesin membutuhkan tenaga tambahan, misalnya saat menyalip atau menanjak.

Hal ini bisa langsung terasa sebagai brebet atau tarikan yang tersendat.

Faktor penyebab lemahnya pompa antara lain usia pakai, kotoran dari tangki, atau saringan bahan bakar yang tersumbat.

Solusinya adalah dengan memeriksa tekanan bahan bakar menggunakan fuel pressure gauge, dan mengganti pompa bila sudah tidak lagi mampu mempertahankan tekanan standar.

5. Busi dalam Kondisi Lemah, Kotor, atau Sudah Aus

Busi memiliki peran penting dalam menciptakan percikan api untuk pembakaran.

Jogyamotor jimbray
 
 
Motor Bekas Honda Vario 160 CBS Tahun 2022 - Tangerang Selatan
Rp 20,800,000.00
banten

Jika elektroda busi sudah aus, jarak celahnya tidak sesuai, atau terdapat endapan karbon yang menumpuk, maka percikan api menjadi tidak maksimal.

Akibatnya, pembakaran tidak sempurna dan menyebabkan mesin brebet, terutama saat beban mesin meningkat saat akselerasi.

Masalah ini sering kali luput dari perhatian karena busi kecil ukurannya, tapi dampaknya besar terhadap performa.

Oleh karena itu, busi harus diperiksa secara rutin, dibersihkan jika masih layak, atau diganti setiap kelipatan jarak tertentu, umumnya 8.000–10.000 km, tergantung jenis dan spesifikasi yang digunakan.

6. Masalah pada ECU atau Gangguan Sistem Kelistrikan

Masalah pada ECU

ECU atau Electronic Control Unit adalah pusat kontrol dari seluruh sistem injeksi.

ECU menerima data dari sensor, lalu mengatur injeksi bahan bakar dan pengapian secara otomatis.

Jika terjadi gangguan pada ECU, baik karena kelistrikan tidak stabil, korsleting, atau kerusakan komponen internalnya, maka kerja sistem injeksi akan terganggu dan menyebabkan gejala brebet, mesin pincang, hingga mogok.

Selain itu, kelistrikan yang tidak stabil akibat aki soak atau kabel longgar juga dapat mempengaruhi sinyal yang dikirim ke ECU.

Untuk mendiagnosisnya, diperlukan alat scanner yang bisa membaca error code pada ECU dan memastikan sistem kelistrikan kendaraan dalam kondisi baik dan stabil.

7. Pemilihan Bahan Bakar Tidak Sesuai dengan Spesifikasi Mesin

Setiap motor memiliki rasio kompresi mesin yang berbeda, dan hal ini berpengaruh pada jenis bahan bakar yang sesuai.

Motor dengan kompresi tinggi seharusnya menggunakan bensin dengan oktan tinggi yaitu RON 92 ke atas, agar pembakaran berlangsung sempurna dan tidak terjadi knocking atau pre-ignition.

Jika dipaksakan menggunakan bahan bakar beroktan rendah, proses pembakaran tidak sesuai timing dan menghasilkan getaran atau brebet, terutama saat akselerasi.

Untuk mengatasi masalah ini, cukup beralih ke bahan bakar dengan nilai oktan yang direkomendasikan oleh pabrikan, biasanya tertulis di buku manual atau stiker pada bodi motor.

Dengan perawatan yang tepat, motor injeksi akan tetap responsif, irit bahan bakar, dan nyaman digunakan dalam berbagai kondisi jalan.

(Eno/TribunJualBeli.com)