0

Sering Dikaitkan dengan Hal Supranatural, Ini 3 Cara Mengatasi Sleep Paralysis atau Fenomena Ketindihan

Penulis: Zahrina Oktaviana
Sering Dikaitkan dengan Hal Supranatural, Ini 3 Cara Mengatasi Sleep Paralysis atau Fenomena Ketindihan

TRIBUNJUALBELI.COM - Sleep paralysis atau kelumpuhan saat tidur yaitu ketidakmampuan bergerak saat tidur atau bangun tidur.

Fenomena sleep paralysis ini sering dikaitkan dengan "ketindihan makhluk halus" saat tidur.

Kondisi ini umumnya terjadi bila si penderita tidur menelentang atau menghadap ke atas, yang ditandai dengan merasa sesak napas seperti dicekik, dada sesak, badan tidak bisa bergerak dan sulit bersuara

Banyak orang yang mempercayai sleep paralyisis sebagai sesuatu yang mistis dan berhubungan dengan hal gaib.

Namun sebenarnya, bisa dijelaskan secara medis.

Sleep paralysis ini terjadi pada orang yang kurang tidur, mengalami perubahan jam tidur atau memiliki penyakit narkolepsi.

Tidak ada perawatan khusus untuk mengatasi Sleep paralysis ini, namun Anda harus menghadapinya dengan tenang.

Baca juga : 11 Tanda Kematian pada Seseorang Semakin Dekat, Salah Satunya Tidur Lebih Lama

Baca juga : Meski Terkesan Jorok, Tidur Ngiler Ternyata Jadi Tanda Baik Lho

Dilansir dari Hello sehat, beberapa cara ini bisa mengatasi kondisi Sleep Paralysis

1. Tidur cukup

Memastikan tidur yang cukup merupakan salah satu cara yang bisa dilakukan agar kondisi ini tak kembali terjadi.

Agar mendapatkan tidur yang cukup, hindari beberapa hal yang bisa mengganggu jam tidur Anda.


2. Tidur dan bangun di jam yang sama

Menerapkan jam tidur dan bangun yang sama dapat mendukung jam biologis tubuh dan keseluruhan fungsi tubuh.

Baca juga : Pinggang Terasa Sakit Ketika Bangun Tidur? Berikut Cara Alami Mengatasi Sesuai Penyebabnya

3. Lakukan perawatan lanjutan

Pada beberapa kasus, orang yag secara terus menerus mengalami hal ini membutuhkan perawatan dokter.

(TribunjualBeli/arin)

Bukan Hal Mistis, Ini Alasan Anda Terkadang Alami 'Ketindihan' Saat Tidur Menurut Sains

Pernahkah Anda terbangun dari tidur dan mendapati diri tidak bisa bergerak dan berbicara, bahkan kesulitan bernapas? Apa yang Anda alami sering disebut sebagai "ketindihan" dalam tidur.

Walaupun sering dikaitkan dengan hal-hal supranatural, rupanya fenomena "ketindihan" memiliki istilah ilmiah, yaitu kelumpuhan tidur atau sleep paralysis.

Menurut Dr Jan Dirk Blom, kelumpuhan tidur adalah hasil dari disosiasi fase tidur kita.

Kondisi ini biasanya terjadi saat kita akan tertidur atau baru terbangun.

Saat kelumpuhan tidur terjadi pada kita, dua aspek tidur REM (Rapid Eye Movement) muncul.

Otot-otot tubuh menjadi rileks ke tingkat seperti lumpuh, sementara pikirannya terbangun, meskipun orang tersebut masih bermimpi dan tubuhnya tidak bisa bergerak.


"Tidur berbaring dengan kondisi seperti lumpuh akan membangunkan sistem kewasdapaan dalam otak yang dapat menimbulkan halusinasi sesosok makhluk sedang duduk di dada," kata Blom kepada Livescience.

Hal tersebut merupakan kombinasi dari memori lingkungan nyata danmimpi buruk seseorang, yang diproyeksikan ke dunia nyata. "Pengalaman itu terasa sangat nyata," kata Blom dikutip dari Livescience.

Walaupun terdengar sepele dan sangat dimengerti secara ilmiah, rupanya kelumpuhan tidur patut diseriusi oleh psikiater dan psikolog.

Sebuah hasil analisis yang diterbitkan di jurnal Frontiers in Psychiatrypada bulan November menemukan bahwa kelumpuhan tidur lebih sering terjadi dari yang diperkirakan sebelumnya.

Baca juga : Pernah Mengalami Sensasi Terjatuh Saat Tidur? Kenali Tentang Fenomena Hypnic Jerk

Para peneliti mengamati 13 studi tentang fenomena inkubus yang melibatkan 1.800 orang.

Penelitian dilakukan dari berbagai negara, termasuk Kanada, Amerika Serikat, China, Jepang, Italia dan Meksiko.

Hasilnya, sedikitnya 1 dari 10 orang, atau sekitar 11 persen dari populasi umum, pernah mengalami "ketindihan".

"Itu berarti ada kemungkinan 11 persen bagi individu tertentu untuk mengalami fenomena 'ketindihan' ini setidaknya sekali selama hidup mereka," kata Blom.

Namun dalam kelompok tertentu, misalnya orang dengan gangguan kejiwaan, para pengungsi dan juga pelajar, kemungkinan "ketindihan" lebih tinggi dan mencapai 41 persen.

Blom juga menambahkan bahwa orang-orang yang tidur telentang, mengonsumsi alkohol, dan memiliki pola tidur yang beraturan memiliki kemungkinan "ketindihan" yang lebih tinggi.


Berdasarkan penemuan ini, Blom pun berpendapat bahwa "ketindihan" dapat menyebabkan masalah tertentu, misalnya kecemasan, sulit tidur, dan bahkan gangguan delusional atau penyakit jiwa yang serupa dengan skizofrenia.

Para peneliti juga menduga adanya keterkaitan "ketindihan" dengan kematian mendadak saat tidur. Namun, hal tersebut masih sulit dijelaskan sampai sekarang.

"Orang yang pernah mengalami 'ketindihan' sering melaporkan memiliki tingkat kecemasan yang luar biasa," kata Blom.

Banyak dari mereka memiliki perasaan bahwa mereka benar-benar akan mati ketika ketindihan, meskipun mereka tidak tahu apakah hal itu pernah terjadi atau tidak.

Menariknya, penelitian juga menemukan bahwa sosok makhluk yang menyebabkan ketindihan memiliki hubungan erat dengan latar belakang budaya seseorang.

"Semisal pasien dengan latar belakang Muslim sering berkata kepada saya bahwa mereka melihat 'ketindihan' sebagai bukti bahwa mereka dihantui oleh jin, roh tak terlihat yang diciptakan oleh Allah dari api tanpa asap," kata Blom.

Namun, tidak selalu makhluk khayalan dalam fenomena ini mengerikan.

"Saya baru saja berbicara dengan seorang gadis berusia 15 tahun yang sehat yang telah mengalami fenomena 'ketindihan'. Dia menemukan empat penguin mini yang makan di meja di dadanya, dan merasa lebih senang dan geli daripada takut," ujar Blom. (Kompas.com/Michael Hangga Wismabrata)

Sebagian artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Ketindihan" Saat Tidur, Fenomena Apakah Ini Menurut Sains?"
Penulis : Michael Hangga Wismabrata

Download aplikasi Kompas.com untuk akses berita lebih mudah dan cepat:
Android: https://bit.ly/3g85pkA
iOS: https://apple.co/3hXWJ0L