BLOG.TRIBUNJUALBELI.COM - Rumah menjadi kebutuhan dasar manusia yang seharusnya mampu memberikan rasa aman, nyaman, dan sehat bagi penghuninya.
Namun kenyataannya, masih banyak masyarakat Indonesia yang tinggal di rumah tidak layak huni, mulai dari atap bocor, dinding lapuk, ventilasi minim, hingga sanitasi yang buruk.
Kondisi ini bukan hanya menurunkan kenyamanan hidup, tetapi juga membawa dampak serius bagi kesehatan fisik, mental, hingga ekonomi keluarga.
Jika dibiarkan terus-menerus, rumah yang tidak layak dapat menjadi sumber berbagai permasalahan sosial dan lingkungan di masa depan.
Berikut empat dampak utama rumah tidak layak huni yang perlu mendapat perhatian lebih:
Baca Juga : 6 Ciri Utama Rumah Tidak Layak Huni, dari Struktur Rapuh hingga Ventilasi Buruk
1. Risiko Kesehatan Fisik yang Serius
Rumah yang lembap, kotor, dan kurang ventilasi merupakan tempat ideal bagi berkembangnya kuman, jamur, dan nyamuk penyebab penyakit.
Penghuni rumah seperti ini sering kali rentan terserang penyakit saluran pernapasan seperti asma, bronkitis, atau infeksi paru-paru.
Selain itu, kondisi atap bocor dan dinding yang lembap bisa memicu munculnya jamur, yang dalam jangka panjang berisiko menimbulkan alergi serta iritasi kulit.
Tidak hanya orang dewasa, anak-anak dan lansia menjadi kelompok paling rentan karena daya tahan tubuh mereka lebih lemah.
Sanitasi yang buruk juga memperparah keadaan.
Air yang tidak bersih, kamar mandi tanpa saluran pembuangan memadai, hingga sampah yang menumpuk dapat memicu penyakit diare, tipes, dan demam berdarah.
2. Gangguan Mental dan Psikologis Penghuni
Selain masalah fisik, rumah tidak layak huni juga dapat memberikan tekanan psikologis yang berat.
Ruang sempit, udara pengap, serta kondisi lingkungan yang bising atau kumuh membuat penghuni mudah stres dan merasa tidak betah di rumah sendiri.
Bagi anak-anak, kondisi ini bisa memengaruhi tumbuh kembang serta kemampuan belajar.
Mereka sulit berkonsentrasi karena suasana rumah yang tidak kondusif, bahkan kehilangan rasa percaya diri saat berinteraksi dengan teman-teman yang tinggal di rumah lebih layak.
Dalam jangka panjang, rasa tidak nyaman ini dapat memicu gangguan emosional, menurunkan semangat hidup, hingga menimbulkan konflik antaranggota keluarga.
Baca Juga : Terlihat Sepele, Tapi 8 Hal Ini Bisa Buat Rumah Jadi Tidak Layak Huni
3. Potensi Kecelakaan dan Bahaya Struktural
Rumah yang tidak layak huni umumnya memiliki struktur bangunan yang lemah.
Dinding retak, atap rapuh, hingga kabel listrik yang terkelupas menjadi ancaman nyata bagi keselamatan penghuni.
Kecelakaan domestik seperti jatuh karena lantai licin atau tersengat listrik sering kali terjadi di rumah dengan kondisi seperti ini.
Saat musim hujan atau terjadi gempa kecil, risiko rumah roboh pun meningkat tajam.
Selain membahayakan nyawa, rumah yang tidak stabil juga menghalangi penghuni untuk beristirahat dengan tenang karena selalu diliputi rasa khawatir akan bahaya yang mungkin terjadi kapan saja.
4. Dampak Sosial dan Ekonomi yang Berkepanjangan
Tinggal di rumah tidak layak huni juga berpengaruh pada kondisi sosial dan ekonomi keluarga.
Dari sisi sosial, penghuni sering kali merasa minder dan terpinggirkan karena lingkungan rumahnya dianggap kumuh.
Dari sisi ekonomi, biaya perawatan rumah yang rusak justru bisa menjadi beban besar.
Dinding yang retak, atap bocor, dan saluran air rusak membutuhkan biaya perbaikan terus-menerus, terutama jika tidak ditangani sejak awal.
Dalam beberapa kasus, keluarga yang tinggal di rumah tidak layak juga sulit mendapatkan akses kredit atau program peningkatan ekonomi karena kondisi tempat tinggal mereka tidak memenuhi syarat administratif.
Oleh karena itu, penting bagi setiap keluarga dan pihak berwenang untuk berkolaborasi menciptakan lingkungan tempat tinggal yang lebih manusiawi.
Karena sejatinya, rumah layak huni adalah pondasi utama kehidupan yang sehat, sejahtera, dan bermartabat.
(Eno/TribunJualBeli.com)