0

Sering Mengkonsumsi Daging Anjing? Ketahuilah Resiko Bahaya Kesehatan yang Selalu Mengintai

Penulis: Kurniantohanif
Sering Mengkonsumsi Daging Anjing? Ketahuilah Resiko Bahaya Kesehatan yang Selalu Mengintai

TRIBUNJUALBELI.COM - Publikasi data tahun 2017 yang menyebut sekitar 1.200 anjing dibunuh di Surakarta, untuk dijadikan santapan, mengundang perhatian besar.

Ketua Ketua Dog Friends Surakarta Fredy Irawan -lembaga melansir data itu, menyebut daging anjing itu dijadikan santapan di 136 warung yang ada di Solo.

Tak hanya itu, Fredy meyakini praktik-praktik ini dilakukan secara kejam. Sebab, sering kali anjing tidak dipotong, tetapi dicekik atau ditenggelamkan hingga mati.

"Ini penyiksaan. Sebab, pelanggan yakin, daging anjing jauh lebih nikmat jika darah anjing tidak mengalir saat hewan itu dibunuh," ujar Fredy.

Sebelum kabar dari Solo ini menjadi perhatian publik, perhelatan akbar Olimpiade musim dingin di Pyeongchang, Korea Utara juga sudah diwarnai kegemparan serupa.

Laman National Geographic memberitakan, sebelum pelaksanaan Olimpiade, Pemerintah Korsel mengeluarkan larangan kepada 12 restoran di kota itu, untuk tidak menyuguhkan menu daging anjing, selama Olimpiade.

Tak main-main, berharap larangan itu bisa dipatuhi, Pemerintah Korsel pun menyediakan uang kompensasi.

Namun yang terjadi, nyaris seluruh restoran tersebut tak menghentikan aktivitas perdagangannya, apalagi permintaan pasar pun besar. 

Tentu saja, pemandangan itu mengundang kritik dari masyarakat internasional yang datang ke Pyeongchang, -baik para atlet, maupun turis yang menyaksikan Olimpiade.


 

Sementara isu tentang penyiksaan hewan menjadi hal yang tak terbantahkan dalam kasus ini, ada juga kekhawatiran tentang ancaman penyakit bagi para penyantap daging anjing.

1. Rabies

Salah satu bahaya terbesar dari daging anjing adalah penyebaranrabies kepada manusia.

Dikutip dari laman onegreenplanet.org disebutkan, di Filipina, sekitar 10.000 anjing dan 300 orang mati karena rabies setiap tahun. 

Meskipun ada upaya dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) untuk mengatasi penyebaran virus ini, namun hasilnya tetap tak sebanding.

Kebijakan vaksinasi anjing secara massal, tak sebanding dengan laju perdagangan anjing yang melintasi perbatasan internasional. Kondisi ini membuat upaya pencegahan rabies menjadi kian sulit.

Sebuah data lama di tahun 2008 menyebutkan, 20 persen anjing di rumah pemotongan hewan di Hoai Duc, Vietnam terjangkit rabies.

Ini jelas menjadi perhatian utama ketika penyakit berbahaya dan mematikan semacam ini dapat menyebar dengan mudah.  

2. Penyakit Lain

Ada sejumlah penyakit dan infeksi lain yang terkait dengan daging anjing yang bisa membahayakan kesehatan manusia.

Komisi Inspeksi Daging Nasional Filipina pernah mengaku tidak memeriksa daging anjing yang dipasarkan. Hal serupa juga terjadi di negara lain, seperti China.

Padahal, ada kemungkinan infeksi parasit pada daging anjing seperti E. Coli dan salmonella, yang bisa membahayakan manusia.


 

Ada juga bahaya infeksi bakteri seperti antraks, brucellosis, hepatitis, dan leptospirosis yang dapat menyebar melalui daging anjing ke manusia.

Bakteri yang terkait dengan kolera juga mudah menyebar lewat daging. 

Ada pula penyebaran trichinellosis, yakni parasit zoonosis yang dapat ditularkan dari daging anjing.

Orang yang terjangkit bisa mengalami radang pada pembuluh darah, dan kelemahan otot yang parah.  Jika tidak diobati, orang yang terjangkit trichinellosis bisa mati. (*)

(Kompas.com)

Berita ini sudah tayang di halaman Kompas.com pada tanggal 22 Februari 2018, pukul 15:53 WIB dengan judul "Awas, Penyakit Berbahaya akibat Makan Daging Anjing"