TRIBUNJUALBELI.COM - Semakin maju suatu zaman semakin ketat pula persaingan antar manusianya untuk berbagai bidang terutama dalam hal mencari pekerjaan.
Mendapatkan suatu pekerjaan tidaklah semudah membalikkan telapak tangan.
Bagi masyarakat Indonesia, perlu banyak pengorbanan dan dorongan spiritual untuk tetap gigih berusaha mendapatkan ataupun konsisten pada suatu profesi yang diinginkan.
Lapangan pekerjaan yang terbatas dan tingginya tuntutan hidup membuat beberapa pihak mencoba 'menghalalkan' segala cara demi bertahan hidup.
Ditambah dengan fakta bahwa masih terdapat 27,76 juta penduduk Indonesia hidup di bawah garis kemiskinan.
Kenyataan tersebut memaksa beberapa orang untuk memilih mengemis dan mengandalkan belas kasih orang lain di tepian jalan.
Mengemis bukanlah suatu kegiatan simpel dan semudah yang dibayangkan.
Pekerjaan menengadahkan tangan dan mengharap rasa iba dari orang lain ini ternyata menerapkan suatu cara atau trik tertentu layaknya sebuah pekerjaan profesional.
Mereka yang berhasil menggunakan trik-trik khusus memang terbukti dapat hidup lebih dari berkecukupan dan menjadikan mengemis sebagai ladang penghasilan menjanjikan.
Menurut penuturan dari salah seorang oknum 'pengemis penipu' yang ditangkap oleh Dinas Sosial Jakarta Barat tahun lalu, ia sengaja menggunakan trik tertentu untuk membuat setiap orang yang melihatnya menjadi kasihan padahal kondisi tubuhnya sebenarnya sehat dan normal.
Inilah beberapa modus dari sindikat pengemis profesinal yang kerap mengelabuhi mata banyak orang dan memancing ras belas kasihan.
1. Trik kaki buntung
Metode ini bisa dianggap sebagai modus mengemis yang cukup klasik.
Orang yang tidak tahu akan hal tersebut pastinya akan merasakan rasa kasihan yang begitu tinggi dan tak segan untuk menyumbangkan uangnya dengan nominal besar.
Polisi telah banyak melakukan razia dan mengungkapkan cara yang digunakan oleh oknum pengemis profesional ini.
Mereka hanya melipat kan menyembunyikan kaki dibalik celana dobel yang telah dipakai dan hasilnya terlihat seolah-olah terlihat buntung.
2. Trik luka dan borok buatan di bagian tangan hingga kaki
Kita kerap melihat seorang pengemis yang keadaannya lesu dengan kondisi sekujur badan penuh luka dan borok tergeletak di tepi jalan atau halaman toko.
Namun percayakah Anda jika itu benar-benar luka asli?
Salah seorang oknum pernah membocorkan rahasia dari luka buatan ini, mereka sebenarnya hanya memakai bahan terasi yang dicampur dengan obat merah untuk membuat borok dan memancing kerubutan lalat.
Bau tak sedap dan banyaknya lalat yang mengkerubuti akan menyakinkan pemberi sedekah bahwa luka tersebut benar sungguhan.
3. Trik pura-pura buta
Selain kaki buntung, trik pura-pura buta rasanya juga merupakan cara kuno yang sudah terlalu sering dipakai oleh para pengemis gadungan.
Dalam menjalankan aksinya, si pengemis biasanya ditemani oleh satu rekannya yang akan mendampingi kemanapun ia pergi.
Tak jarang mereka berpindah-pindah tempat dan menempuh perjalanan jauh untuk mencari lokasi yang ramai akan aktifitas banyak orang.
Lucunya, tak sedikit oknum pengemis buta palsu yang justru lari dengan tujuan yang terarah ketika petugas Dinas Sosial berusaha menghampiri mereka.
Katanya buta kok bisa lari dan kabur?
4. Trik menyewa bayi dan anak-anak
Harga yang dipatok untuk sekali menyewa bayi berkisar Rp 30 ribu per dua jam.
Jika pengemis gadungan ingin meminjam bayi itu untuk satu hari penuh maka ia harus merogoh kocek sebesar Rp 200 ribu.
Biaya susu dan makanan untuk bayi merupakan tanggungan dari si penyewa.
Ketika melancarkan aksinya, si pengemis tak ragu untuk memberikan obat tidur agar anak kecil yang dibawanya terlelap pada saat mereka mengemis di bawah sengatan terik matahari.
Jika anak kecil tersebut benar-benar tertidur tanpa pengaruh obat tentunya ia akan terbangun karena kondisi cuaca yang begitu panas dan meminta untuk berteduh.
Ironisnya, setiap anak yang diajak untuk mengemis dengan cara itu harus meminum satu dosis obat tidur untuk sekali jalan.
Bayangkan berapa dosis yang mereka harus konsumsi ketika si penyewa mengemis untuk waktu seharian penuh?
Memberi atau beramal memang harus disertai dengan keikhlasan, tetapi kita perlu mengetahui konteksnya.
Jangan sampai tertipu oleh kondisi kaum membutuhkan yang memanipulasi banyak cara untuk memancing rasa iba. (*)