TRIBUNJUALBELI.COM - Masyarakat sedang dibuat resah oleh pernyataan yang dibuat oleh BPOM (Badan Pengawas Obat dan Makanan) mengenai dua jenis produk supmen yang mengandung DNA (Deoxyribo Nucleic Acid) alias unsur babi.
Selama ini kita jarang diberikan edukasi tentang bagaimana cara membedakan obat yang mengandung babi atau tidak.
Farmakolog dari Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada, Prof. Dr Zullies Ikawati, Apt berpendapat bahwa membedakan obat yang mengandung babi dengan yang tidak adalaha hal sulit.
Secara kasat mata tidak ada perbedaan siginifikan dan cenderung memiliki bentuk yang sama.
Masyarakat selalu dihimbau untuk lebih teliti dalam mengkonsumsi setiap obat atau suplemen.
Prof. Zullies membagikan cara mudah untuk membedakannya, perhatikanlah informasi label yang tertera di kemasannya.
Dalam bahasa farmasi, bahan kandungan babi biasanya disebut porcine.
BPOM telah terbitkan kebijakan untuk mewajibkan setiap produsen obat mencantumkan informasi jelas pada produknya yang gunakan kandungan babi.
Prof Zullies juga menambahkan bahwa regulasi BPOM yang seperti itu sebenarnya sudah berlaku sejak lama untuk mengatur produksi dan distribusi obat-obatan bersumber bahan hewani.
Mengapa harus ada alternatif obat berbahan babi?
Farmakolog dari universitas tertua di Indonesia ini mengklaim bahwa produk berbahan babi dapat memberikan hasil akhir yang cenderung lebih baik.
Sebagai contohnya gelatin untuk kapsul, gelatin yang terbuat dari tulang babi dapat menghasilkan kualitas yang sangat ideal.
Gelatin tersebut dianggap lebih elastis, tidak mudah rusak, dan mempunyai masa bertahan yang lebih lama. (*)