TRIBUNJUALBELI.COM - Belakangan nama Zumi Zola ramai diperbincangkan.
Bukan karena prestasinya, melainkan karena kasus korupsi yang menjeratnya.
Gubernur Jambi itu tersangkut kasus korupsi pengesahan rancangan APBD Jambi 2018.
Zumi diduga menerima suap terkait proyek-proyek di Jambi.
Jumat (2/2/2018) Komisi Pemberantasn Korupsi (KPK) telah menetapkan secara resmi Zumi Zola menjadi tersangka korupsi.
Sebelum berprofesi sebagi Gubernur Jambi, nama Zumi Zola lebih dulu dikenal sebagai publik figur.
Pria 37 tahun itu merupakan mantan aktor film dan pemain sinetron.
Beberapa judul film dan sinetron pernah dibintanginya.
Seiring berjalannya waktu, Zumi Zola pun memilih terjun ke dunia politik.
Ia meninggalkan dunia keartisan yang telah membesarkan namanya.
Sebenarnya bukan lagi menjadi kabar baru soal hijrahnya seorang artis ke ranah politik.
Bukan hanya Zumi Zola, ada banyak artis Ibu Kota yang memilih terjun ke dunia perpolitikan.
Seperti Pasha Ungu, Giring Nidji, Anang Hermansyah, Rano Karno, Deddy Mizwar, Angelina Sondakh, Rieke Dyah Pitaloka dan masih banyak lainnya.
Dari nama-nama di atas, salah satunya juga bernasib sama dengan Zumi Zola.
Pada 2015 silam, nama Angelina Sondakh lebih dulu terjerat kasus korupsi.
Ia pun harus mendekam di balik jeruji besi selama 4 tahun 6 bulan, serta denda sebesar Rp 250 juta.
Di panggung hiburan, nama Angelina Sondakh mulai dikenal setelah berhasil menjuarai kontes Puteri Indonesia pada 2001 silam.
Berawal dari situlah nama Angelina Sondakh mulai dikenal sebagai selebritis.
Namun beberapa tahun kemudian Angelina Sondakh mulai terjun di dunia politik.
Dan sayangnya, dunia politik justru membawa Angie dan Zumi Zola terjerat korupsi.
Sebenarnya ada banyak kelemahan saat publik figur terjun di ranah politik.
Tak hanya soal korupsi, melainkan hal-hal yang berkaitan dengan kinerjanya.
Dari sebuah hasil wawancara, Ketua Umum Ketua Persatuan Artis Sinetron Indonesia, Anwar Fuadi mengungkapkan kelemahan-kelemahan apa saja yang ada pada artis yang terjun di dunia politik.
Menurut Anwar Fuadi, ada beberapa artis yang tak punya kualitas saat terjun di dunia perpolitikan.
Sehingga ada yang tak memiliki kapabilitas dalam mengurus negara dan melayani masyarakat saat menjadi anggota legislatif.
Kendati demikian, Anwar Fuadi menegaskan jika pilihan untuk terjun di dunia politik merupakan hak masing-masing.
Apalagi Indonesia merupakan negara demokratis yang membebaskan warna negaranya untuk terjun dalam politik.
Setiap artis yang terjun di dunia politik pun punya kualitasnya masing-masing.
Terlepas dari kasus yang menjerat Angelina Sondakh dan Zumi Zola, masih banyak artis lainnya yang memang punya kualitas di dunia politik.
Namun stigma miring yang ditujukan pada para artis yang terjun di ranah politik rupanya telah mengakar.
Hal itu diakui oleh Nurul Arifin, seorang mantan artis yang kini aktif sebagai anggota DPR dari fraksi Golkar.
”Saya mengerti, teman-teman dengan latar belakang artis di DPR sering dicap bego.
Lelah juga kami dengan stereotip dan subordinasi tersebut sehingga ada keinginan lebih untuk mendobraknya dengan lebih bekerja keras dan benar,” tutur Nurul Arifin dilansir dari Kompas.com.
Soal penyebab stigma negatif yang ditujukan oleh para anggota DPR dari kalangan artis dijawab melalui hasil survei yang dilakukan Charta Politika, sebuah konsultan politik Indonesia.
Dari hasil survei yang dilakukan terhadap 2.000 responden di seluruh Indonesia pada 8-22 Juli 2012 memang menunjukkan hanya 16,7 persen responden yang setuju artis menjadi caleg.
Angka ini lebih rendah dibandingkan dengan 21,2 persen responden yang mengaku tak tahu atau tak menjawab.
Sebanyak 62,1 persen responden tidak ingin artis menjadi caleg.
Yunarto Wijaya dari Charta Politika mengungkapkan jika citra DPR yang tak baik menjadi salah satu sebab banyak warga keberatan artis jadi caleg.
Oleh karena itu, kondisi itulah yang membuat para artis dinilai negatif saat masuk ke ranah politik.
Suara miring tentang artis yang menjadi caleg, menurut Yunarto Wijaya, juga menjadi bagian dari keluhan atau pertanyaan mengapa artis hanya jadi pengumpul suara.
Ini terlihat dari kebijakan partai politik yang banyak merekrut artis menjelang pemilu, tanpa diiringi kaderisasi sebelumnya.
Pertanyaan itu muncul karena artis yang berhasil eksis di DPR ternyata telah mengalami ”kaderisasi” melalui aktivitas mereka sebelumnya.
Seperti Nurul Arifin, sebelum di DPR dan menjadi kader Golkar, Nurul lama menjadi aktivis perempuan dan penanggulangan HIV/AIDS.
Akhirnya, tudingan adanya sejumlah artis yang terjun ke politik dengan hanya bermodal popularitas menjadi bagian dari gugatan terhadap kerja partai politik.
Sehingga para artis pun bekerja sesuai arahan partai politik mereka.
Jika sudah begitu, tak heran stigma negatif pun begitu melekat pada diri artis yang terjun di dunia politik yang dianggap tak punya kualitas.
Belum lagi saat mantan-mantan artis itu terjerat kasus-kasus tak bermoral dan memalukan sudah barang pasti jadi sorotan.
(TribunJualBeli.com/ Alieza Nurulita)