TRIBUNJUALBELI.COM - Dimanapun tempat Anda berada, di situlah akan selalu ada ancaman tindak kejahatan dan kriminal yang bisa terjadi.
Hampir di semua negara termasuk Indonesia, selalu terjadi perbuatan kejahatan di setiap harinya, entah itu kasus yang berskala kecil maupun besar.
Dibalik serangkaian tindakan mengancam dan merugikan itu pasti ada seorang tokoh penjahat yang mendalanginya.
Tokoh-tokoh penjahat yang populer tak hanya ada dalam cerita atau film belaka.
Banyak masyarakat yang mengetahui sepak terjang dan keganasan para pelaku tindak kejahatan kelas berat hingga dianggap suatu ancaman tersendiri.
Bila di luar negeri, kita mengenal sosok legendaris seperti Al Capone, Xie Caiping, Bonnie dan Clyde.
Di Indonesia pun juga tak kalah banyak karakter penjahat yang populer dan jauh dari predikat penjahat kelas teri.
Kisah kehidupan kelam yang mereka jalani mampu membuat sebagian orang yang menggeleng-gelengkan kepala ketika mendengarnya.
Mungkin akan terasa janggal jika beberapa figur yang disebutkan ini memang mempunyai citra kuat yang pada zamannya mereke begitu dihormati, ditakuti, dan dihormati oleh masyarakat Indonesia.
Berikut fakta mengenai para pelaku tindak kriminal kelas kakap yang tak mengenal kompromi di segala aksinya dan menorehkan sejarah tersendiri.
1. Dukun AS
Ia menjadi otak kasus kriminal yang sangat menghebohkan masyarakat di daerah Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara.
Pria bernama asli Nasib yang kemudian berganti menjadi AS (Ahmad Suradji) telah melakukan aksi pembunuhan terhadap 42 wanita dengan modus kejahatan berkedok sebagai seorang dukun dan terjadi pada sekitar tahun 1997.
Sebelum melakukan kejahatan berat itu, ia pernah berurusan dengan pihak yang berwajib lantaran terjerat kasus pencurian ternak lembu.
Menurut penjelasan dari berbagai sumber, polisi saat itu berhasil menelusuri dan membongkar kasus pembunuhan yang ditutupi oleh AS ketika awalnya menemukan mayat wanita bernama Sri Kemala Dewi.
Berbagai data dan bukti yang dikumpulkan mampu mengarahkan penyelidikan polisi ke tahap penangakapan AS dan istrinya.
Singkat cerita, setelah melalui proses hukum yang panjang, segala perbuatan kejam AS diketahui bermotifkan untuk memperkuat ilmu hitam dan mengharuskannya membunuh puluhan wanita dan menghisap air liurnya.
Hukuman mati dijatuhkan oleh hakim kepada dukun AS pada tanggal 27 April 1998, sedangkan sang istri mendapat vonis hukuman seumur hidup.
Dukun AS dieksekusi pada hari Kamis 10 Juli 2008 dan kasus nyata tersebut diangkat dalam sebuah film layar lebar berjudul “ Misteri Kebun Tebu“.
2. Slamet Gundul
Sosok satu ini pernah membuat geger dan geram pihak kepolisian DKI Jakarta dan sempat menjadi buronan (DPO) nomor satu di tahun 1989.
Slamet Gundul alias Slamet Santoso alias Samsul Gunawan merupakan pemimpin dari kelompok perampok yang bersenjata senpi dengan target nasabah bank dan sudah menjalankan aksinya selama belasan kali di pulau Jawa.
Direktur Reserse Mabes Polri, Koesparmono Irsan, pada saat itu sempat mengeluarkan instruksi tegas terhadap setiap jajarannya untuk meringkus Slamet Gundul hidup atau mati.
Ia memang dikenal sebagai penjahat yang licik dan lihai dalam usaha meloloskan diri.
Slamet dan kawanannya tercatat pernah berhadapan dengan 6 anggota elit reserse se Jawa Tengah dan ia mampu mengambil langka seribu dengan mengendarai motor walau dalam keadaan kaki yang terluka parah akibat baku tembak selama 15 menit.
Tak hanya itu saja, aksinya yang lain seperti berulang kali lolos dari penggrebekan, kabur dari penjara, dan menghilang tanpa jejak merupakan kehebatan dari Slamet Gundul yang membuat publik tercengang.
Kini ia dikabarkan menjadi kaki tangan dari seorang pengusaha sekaligus salah satu bos mafia besar di tanah air.
3. Kusni Kadut
Kusni Kadut merupakan salah seorang residivis yang mengincar benda berharga seperti permata dan berlian.
Aksinya sempat menggemparkan media pemberitaan saat ia berhasil membobol dan merampok benda-benda bersejarah di Museum Nasional Jakarta (kini bernama Museum Gajah) pada tanggal 31 Mei 1961.
Ia telah menggasak 11 permata dan menyamar sebagai polisi gadungan.
Kusni Kadut beserta anak buahnya juga pernah merampok dan membunuh seorang Arab kaya raya yang terkenal bernama Ali Badjened.
Kusni akhirnya berhasil ditankap oleh polisi saat ia berusaha menggadaikan emas permata hasil curiannya.
Ia divonis hukuman mati dan selama menjalani masa-masa terakhirnya di dalam penjara, Kusni memutuskan untuk bertaubat serta dibaptis sebagai pengikut Katolik bernama Ignatius Kusni Kadut.
Dibalik kekejaman dan keliaran perbuatannya, tak banyak pihak yang tahu bahwa Kusni juga sempat dikenal sebagai “ Robin Hood “ Indonesia karena hasil rampokannya sering dibagi-bagikan kepada kaum yang tidak mampu.
Dahulu ia pernah membantu perjuangan rakyat Indonesia dengan turut serta bergabung bersama TNI melawan Belanda di masa revolusi kemerdekaan Indonesia.
4. Johny Indo
Penjahat ini seolah dikenal sebagai tokoh kriminal yang budiman layaknya karakter Robin Hood.
Ia mempunyai nama asli Yohanes Herbertus Eijkenboom dan lahir di Garut, 6 November 1948.
Di tahun 1970, Johny membentuk sebuah geng kriminal yang bernama Pachinko (Pasukan China Kota).
Tak main-main ketika mengeksesusi, Johny cenderung memilih waktu siang hari untuk merampok toko emas milik orang asing yang kaya raya.
Ia sempat membuat aparat berwajib kalang kabut ketika merampok toko emas di Cikini tahun 1979 dengan senjata lima pucuk pistol, sebutir granat, dan puluhan butir peluru.
Sang Robin Hood ini mampu mengumpul jumlah emas sekitar 129 kilogram emas dalam kurun waktu 10 tahun dan ia justru membagikannya untuk warga-warga miskin.
Sepandai-pandainya tupai melompat pasti akan jatuh juga, Johny Indo akhirnya tertangkap di Sukabumi dan mendekam dalam bui selama 14 tahun.
Ia ditempatkan dalam penjara dengan keamanan super ketat di pulau Nusakambangan.
Kekangan itu tak lantas membuatnya jera, Johny sempat mencoba untuk melarikan diri dan pada akhirnya menyerah setelah bertahan selama 12 hari di alam liar.
Hidup dipenjara membuatnya banyak mengevaluasi diri.
Ketika sudah dapat menghirup udara segar kembali, Johny Indo memutuskan untuk menjadi seorang mualaf dan tinggal bersama keluarganya di daerah Sukabumi, Jawa Barat.
5. Mat Peci
Ia adalah penjahat yang memiliki atribut unik sebagai penguat identitasnya, yakni selalu memakai peci.
Awal mula kehidupan seorang Mat Peci begitu jauh dari kesan dunia kriminal karena ia merupakan salah satu keturunan keluarga terpandang di daerah Garut.
Ia pernah menjalin kisah cinta yang tak mulus bersama wanita yang bernama Euis karena terhalang oleh restu orang tua.
Mat Peci pun merasa sakit hati dan memilih untuk merantau di kota Bandung.
Di sana ia sempat menjadi seorang calo karcis bioskop di sekitar kawasan Cicadas.
Eksistensinya dikenal publik dalam citra yang negatif karena Mat Peci banyak melakukan kejahatan seperti perampokan dan pembunuhan di tahun 70 an.
Ketika dalam masa pengasingan di penjara, ia justru semakin memperdalam ilmu kriminalnya dengan cara saling berbagi pengetahuan antara sesama napi.
Ia dikenal mempunyai ilmu kebal dan mempunyai strategi yang pintar untuk dapat lolos dalam setiap usaha penangkapan dirinya.
Mat Peci pun menyudahi segala petualangan hitamnya bersamaan dengan peluru tajam yang menembus beberapa bagian tubuh dan membuat ia tewas di tempat.
Stasiun Kereta Api Leles kecamatan Kadungora, Garut adalah saksi bisu dari seorang penjahat besar bernama Mat Peci yang sedang meregang nyawanya. (*)