TRIBUNJUALBELI.COM - Pada 6 September 1997 silam, Basuki Tjahaja Purnama secara sah mempersunting Veronica Tan.
Tanpa pernah ada kabar miring, kehidupan rumah tangga keduanya pun kini diisukan sedang di ujung jurang.
Ahok, sapaan akrab Basuki Tjahaja Purnama itu telah melayangkan gugatan cerai kepada sang Istri.
Pernikahan yang baru akan memasuki usia 21 tahun itupun kini akan kandas di tengah jalan.
Memang tak mudah untuk membanung rumah tangga hingga mau memisahkan.
Namun tak semua masalah berujung pada perceraian.
Belajar dari apa yang terjadi pada kehidupan rumah tangga Ahok-Veronica, kini tak ada salahnya untuk mengenal usia kritis dalam pernikahan.
Menurut Tiwin Herman, M.Psi, pernikahan adalah komitmen dari sepasang insan untuk saling menyesuaikan diri secara terus-menerus.
Serangkaian konflik yang khas, biasanya, muncul di tahun-tahun tertentu pernikahan.
Keterampilan menyelesaikan masalah akan semakin memperkuat hubungan suami-istri.
Berikut masa-masa rentan itu dan cara menghadapinya.
Usia pernikahan di bawah 5 tahun
Tahun-tahun pertama pernikahan merupakan masa yang sangat riskan.
Hal ini disebabkan oleh proses penyesuaian diri yang terhambat.
Banyak istri atau suami yang mengeluh bahwa sifat dan sikap pasangannya berubah setelah menikah, tidak seperti saat pacaran.
Dalam proses ini, karena usia pernikahan masih baru, toleransi antarpasangan masih sangat tinggi.
Jika di masa ini sudah mulai ada maslah yang tidak terselesaikan dan menyebabkan komunikasi berjalan tidak lancar, pasangan suami istri biasanya merasa tidak puas.
Masalah-masalah baru pun akan bermunculan bila ketidakpuasan tersebut tidak diungkapkan.
Tahun kedua pernikahan dan selanjutnya peran suami istri berganti menjadi orangtua, seiring lahirnya anak pertama.
Dengan peran baru sebagai orangtua, pasangan harus mempelajari banyak hal, termasuk bagaimana menjadi mitra yang baik dalam membesarkan anak.
Cara Menghadapi: Pada masa ini, watak asli pasangan mulai muncul.
Meski telah melalui proses pacaran, pernikahan selalu diawali dengan kejutan-kejutan kecil seputar sifat atau kebiasaan pasangan.
Setiap pasangan seharusnya saling memahami kondisi ini.
Mereka juga dapat memanfaatkan momentum tersebut untuk saling mengenal lebih dalam lagi, baik secara fisik, emosi, kebiasaan, minat, hobi, dan lain-lain.
Soal cara mendidik anak, latar belakang keluarga yang berbeda, umumnya, berdampak pada pola pengasuhan anak.
Diperlukan kebesaran hati untuk bisa memadukan kedua pola asuh yang berbeda atau merumuskan sendiri pola asuh yang pas.
Masalah keuangan pun demikian.
Karena urusan keuangan sangat sensitif, pembagian peran dalam keuangan keluarga harus jelas sejak awal pernikahan.
Usia pernikahan di atas 20 tahun
Masa rentan yang dihadapi pada usia pernikahan di atas 20 tahun lebih disebabkan oleh toleransi yang sudah mulai berkurang.
Perpisahan pada masa ini, biasanya, karena memang sudah ada masalah pada awal pernikahan namun mereka memilih bertahan dengan berbagai alasan normatif.
Misalnya alasan: takut mengecewakan keluarga atau dicemooh masyarakat.
Namun, alasan yang paling klasik adalah anak-anak.
Akhirnya, ketika anak-anak sudah jalan cukup dewasa dan mandiri, jalan perpisahan pun diambil.
Kasus lain yang saat ini juga banyak adalah karena pasangan bermain api dengan orang lain.
Hal itu terjadi karena tingkat kejenuhan yang sudah akut.
Selama berpuluh-puluh tahun, Anda dan pasangan menjalani hidup berdua tanpa variasi.
Di samping itu, usia tua memang biasanya membuat seseorang menjadi lebih sensitif.
Sikap sensitif tersebut bisa berwujud rasa terabaikan atau merasa tidak dihargai lagi.
Hal ini membuat pasangan menajdi tidak tahan serta frustasi dan memilih untuk berpisah.
Cara Menghadapi: Saat akan memasuki masa ini, ajaklah pasangan untuk berbicara dari hati ke hati.
Tanyakan bagaimana perasaan dan gairah cinta mereka.
Bila sudah merasa hambar, Anda dan pasangan harus mendiskusikan cara untuk menghidupkan kembali api cinta kalian.
Definisikan kembali tujuan pernikahan Anda.
Kemukakanlah hal-hal yang paling disukai dan dibenci dari masing-masing pasangan.
Kemudian, berintrospeksilah dan perbaiki diri sesuai harapan masing-masing.
Tanyakan juga padanya kekecewaan yang selama ini dirasakannya dan perubahan apa yang paling diinginkannya dari diri Anda.
Dengarkanlah tanpa harus bersikap reaktif.
Pahami pola pikirnya dan ekspresikan rasa empati Anda.
Dengan begitu, pasangan akan bersikap sama dan rumah tangga yang hambar akan kembali hidup.
(*)