TRIBUNJUALBELI.COM - Industri media sosial bisa dibilang cukup fluktuatif, terkadang ada pemain baru yang cepat mencuri perhatian netizen untuk kemudian cepat pula dilupakan.
Sebut saja Path yang sempat digandrungi di Indonesia lantas sekarang mulai ditinggalkan.
Ada juga Myspace yang dulunya menjadi sarang bagi para netizen untuk membuat profil yang benar-benar termodifikasi sesuai karakter.
Di antara jejeran media sosial yang trennya naik-turun, ada yang memilih tutup ada juga yang tetap lanjut walau mulai ditinggalkan penggunanya, sehingga kesannya seperti hidup segan mati pun tak hendak.
Berikut ini media sosial itu:
1. Gab bukan Grab
Pada dasarnya Gab serupa dengan Twitter.
Bedanya, Gab memperbolehkan penggunanya melontarkan pesan-pesan kebencian tanpa khawatir akun mereka ditangguhkan alias suspended.
Tak heran media sosial yang dirilis pada 2016 tersebut dijuluki “Twitter untuk orang-orang rasis”.
iOS dan Android pun menolak keberadaan Gab pada toko aplikasi mereka.
Para pengguna hanya bisa mengaksesnya dalam bentuk situs via peramban.
Media sosial ini tak pernah populer di Indonesia, pengguna globalnya pun hanya 225.000-an.
Meski sedikit, pengguna Gab bisa dibilang loyal karena punya karakteristik yang tersegmentasi.
Itulah yang membuat Gab tetap bertahan.
2. Google +
Ketika dirilis pada 2011 lalu, banyak yang memprediksi Google+ bakal jadi pembunuh Facebook.
Awalnya sempat booming, pendaftar Google+ mencapai miliaran akun.
Kendati demikian, laporan dari Stone Temple Consulting pada 2014 menunjukkan pengguna aktifnya hanya sekitar 100 juta.
Dari jumlah tersebut, yang rutin mengunggah konten hanya 3,5 juta pengguna.
Angka itu tak sebanding dengan pengguna aktif Facebook yang diklaim dua miliar setiap bulannya.
Rezeki Google memang sepertinya bukan di industri media sosial.
Meski demikian, media sosial ini tetap berjalan meski peminatnya sedikit.
3. Path
Percaya ata tidak dulu di tahun 2012 hingga 2014, Path menjadi salah satu media sosial paling populer di kancah global.
Hingga kini sebenarnya masih banyak yang menggunakan Path di Indonesia, meski tak seaktif dulu.
Keunggulan Path mulanya terletak pada keterbatasan teman yang hanya menampung 50 orang.
Kemudian batasnya diperlebar menjadi 150 dan akhirnya tak ada batas sama sekali.
Beberapa kasus terkait privasi pengguna pun membuat popularitas Path turun.
Salah satunya fakta bahwa Path diam-diam bisa mengakses dan menyimpan kontak telepon pengguna tanpa permisi.
Meski sudah minta maaf, tetap saja path ditinggalkan oleh para penggunanya.
Berita ini juga tayang di Kompas.com dengan judul 5 Media Sosial yang "Hidup Segan Mati Tak Hendak"