0

Berambisi Jadi Pesaing Apple, Perusahaan Teknologi China Ini Malah Bangkrut dan Pendirinya Jadi Buron

Penulis: Hanggara Hendrayana
Berambisi Jadi Pesaing Apple, Perusahaan Teknologi China Ini Malah Bangkrut dan Pendirinya Jadi Buron

TRIBUNJUALBELI.COM - Apple dan Samsung selama ini masih jadi raksasa utama di dunia teknologi terutama smartphone.

Hegemoni keduanya yang susah digoyahkan ini jadi tantangan vendor-vendor lain.

Salah satunya adalah LeEco.

Perusahaan asal China ini berambisi untuk menyaingi ponsel buatan Apple, iPhone.

LeEco mengerjakan proyek ambisius tersebut dengan mengeluarkan smartphone dengan teknologi dan desain yang canggih.

Untuk membuat smartphone pesaing iPhone ini, LeEco tentu saja membutuhkan dana yang tak sedikit.

Biaya riset hingga operasionalnya memakan dana yang cukup banyak.

Dengan penuh percaya diri sang pendiri yang bernama Jia Yueting menggandeng sejumlah mitra.

Ia juga mencoba meminjam dana dari bank-bank di China.

Dengan gaya berbisnis yang agresif inilah LeEco dengan mudah menarik investor.


 

Bahkan perusahaan yang awalnya penyedia jasa streaming ini jadi salah satu perusahaan paling potensial di China.

Dalam perkembangannya, LeEco menemui banyak rintangan hingga akhirnya mengalami kesulitan.

Alih-alih menyaingi iPhone, LeEco justru berkutat dengan masalah finansial.

Mereka tak bisa menutup utang-utang yang digunakan untuk pengembangan smartphone LeEcho.

Jia Yueting yang menjabat CEO memutuskan mundur tapi tetap menjadi Chairman pada Mei 2017 lalu.

LeEcho bahkan harus memangkas jumlah karyawan untuk tetap menjalankan proyek ambisiusnya ini.

Namun segala cara yang dikerahkan LeEco tak berhasil.

Hingga akhirnya bank sentral China menyatakan perusahaan ini bangkrut.

Aset-aset milik Jia dibekukan untuk menanggung sebagian kerugian perusahaan.

Jia sendiri kini tak diketahui keberadaannya dan menjadi buron.


 

Kabarnya Ia sekarang berada di Amerika Serikat.

Dilansir dari Reuters (27/12/2017), China Securities Regulatory Commission (CSRC) meminta Jia untuk segera kembali ke China sebelum 31 Desember 2017.

(Hanggara N. Hendrayana/TribunJualBeli.com)