0

Belajar dari Kasus Jonghyun SHINee, Begini Cara Mudah Atasi Depresi dan Keinginan Bunuh Diri

Penulis: Alieza Nurulita Dewi
Belajar dari Kasus Jonghyun SHINee, Begini Cara Mudah Atasi Depresi dan Keinginan Bunuh Diri

TRIBUNJUALBELI.COM - Kim Jonghyun dikabarkan meninggal dunia di apartemen kawasan Cheongdam-dong, bagian selatan Seoul, pada 18 Desember 2017 sekitar pukul 18.10 waktu setempat.

Ia ditemukan tak sadarkan diri dan diduga kuat telah melakukan aksi bunuh diri.

Tentu kepergiannya ini menjadi duka yang mendalam bagi keluarga dan penggemarnya.

Mengingat Jonghyun meninggal dunia saat berada dipuncak karir.

Bahkan sebelum mengakhiri hidupnya, member SHINee ini sempat mengirim pesan bunuh diri kepada kakak perempuannya.

Isi pesan nya menjelaskan bahwa ia ingin semua orang tahu kalau selama ini ia merasakan penderitaan yang luar biasa.

"Selama ini hidupku berat sekali. Tolong relakan aku pergi. Katakan padaku Aku telah (hidup) degan baik (selama ini). Ini pesan terakhirku," begitu lah pesan yang disampaikan Jonghyun kepada kakaknya melansir Joongang.

Dugaan kuat penyebab bunuh diri Jonghyun memang karena perasaan depresi yang dideritanya.

Depresi memang kerap kali menjadi alasan bagi seseorang untuk bunuh diri.

Dilansir dari alodokter.com, depresi merupakan suatu gangguan kesehatan mental yang dapat mempengaruhi pola pikir, perasaan, suasana hati dan cara menghadapi aktivitas sehari-hari.


 

Orang yang depresi biasanya merasa bahwa mereka seolah masuk ke dalam lubang yang dalam, gelap, dan sulit untuk keluar dari sana.

Berdasarkan Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders-V (DSM-V), diagnosis depresi dapat diberikan (hanya melalui pemeriksaan oleh profesional, seperti psikolog/ psikiater).

Lalu apa gejala yang dialami penderita depresi?

Setiap orang menunjukkan gejala depresi yang berbeda-beda.

Berikut ini adalah beberapa gejala psikologis yang muncul akibat depresi:

1. Kehilangan selera untuk menikmati hobi.
2. Merasa bersedih secara berkepanjangan.
3. Mudah merasa cemas.
4. Merasa hidup tidak ada harapan.
5. Mudah menangis.



6. Merasa sangat bersalah, tidak berharga, dan tidak berdaya.
7. Tidak percaya diri.
8. Menjadi sangat sensitif atau mudah marah terhadap orang di sekitar.
9. Tidak ada motivasi untuk melakukan apa pun.
10. Berpikir atau mencoba bunuh diri.

Sementara gejala fisik akibat depresi adalah sebagai berikut:

1. Badan selalu merasa lelah.
2. Gangguan pada pola tidur.
3. Merasakan berbagai rasa sakit.
4. Tidak berselera untuk melakukan hubungan seksual.



5. Bergerak atau berbicara lebih lambat.
6. Merasa tidak bisa beristirahat atau kesulitan untuk duduk diam.
7. Berat badan berubah.
8. Sakit kepala.
9. Mengalami kram.
10 Gangguan pencernaan tanpa sebab fisik yang jelas.

Tentu saja, kemunculan gejala-gejala tersebut biasanya mengganggu dan menurunkan produktivitas harian.

Penelitian mengungkapkan, setiap orang setidaknya akan mengalami satu masa depresi dalam hidupnya.

Depresi sendiri muncul karena manifestasi dari perasaan tertekan mendalam yang dialami seseorang.

Penyebabnya pun karena maslaah sehari-hari seperti, perasaan kesepian, dan alasan-alasan lain yang manusiawi.


 

Sebenranya, depresi merupakan hal yang wajar dan bukan sesuatu yang aneh apalagi memalukan.

Sejatinya, depresi dapat dikendalikan dan ditangani dengan semestinya, sehingga tidak mematikan fungsi keseharian seseorang yang mengalaminya.

Langkah pertama, perlu mulai belajar untuk mengenali gejala depresi yang dialami diri sendiri.

Mengamati ciri awal depresi yang khas adalah hal yang penting.

Kapan pun gejala tersebut muncul, seseorang dapat mengambil langkah untuk menanganinya.

Cara menanganinya disesuaikan dengan tingkatan depresi.

Jika depresi bersifat kronis, tentu paling disarankan adalah menemui konsultan profesional, seperti psikolog dan psikiater.

Namun, jika gejala depresi masih cenderung ringan , orang tersebut dapat mengelola sendiri gejala depresinya.

Penanganan sendiri yang dilakukan antara lain dapat dengan melakukan hobi secara rutin, berolahraga untuk mengelola kondisi fisik dan menenangkan pikiran, atau bercerita pada orang lain yang dipercayai.

Tak hanya itu, mendekatkan diri pada yang Kuasa juga dapat menjadi cara mandiri untuk mengelola depresi.


 

Cara-cara tersebut dapat menjadi jurus yang sederhana, namun ampuh untuk mengatasi depresi.

Pada dasarnya, setiap orang mampu mengendalikan depresi dan bukan justru dikendalikan depresi.

Dengan begitu semoga jumlah penderita depresi bisa turun dan tak ada kasus bunuh diri.

(TribunJualBeli.com/ Alieza Nurulita)