TRIBUNJUALBELI.COM - Ketiga jenis properti ini kerap dihindari konsumen, meski alasan sebenarnya belum bisa dipastikan kebenarannya.
Ketiganya sering dihindari bisa karena kepercayaan turun temurun atau nasihat dari mulut ke mulut, namun jika dipikir dengan logika memang ada benarnya.
Berikut ketiga properti yang sering dihindari tersebut:
1. Rumah menghadap barat
Sebagai negara yang terletak di daerah tropis, Indonesia sangat kaya dengan sinar matahari.
Rumah yang menghadap barat seolah menantang datangnya sinar matahari dari siang sampai sore hari.
Hal ini mengakibatkan rumah menjadi panas dan kurang nyaman huni.
Banyak konsumen menghindari jenis rumah seperti ini, bahkan saat nantinya hendak dijual kembali akan sulit peminatnya.
2. Posisi tusuk sate
Rumah dengan posisi tusuk sate kerap dihindari.
Salah satu alasannya karena posisi rumah yang terlihat langsung dari ujung jalan, sehingga aktivitas penghuni rumah dapat terpantau dari sudut-sudut yang tidak bisa dilihat penghuni rumah.
Ada kepercayaan berkembang, jika rumah tusuk sate merupakan pertemuan arus yang membawa efek buruk bagi penghuni rumah.
3. Lebar depan lebih luas
Rumah dengan lebar bagian depan lebih luas bila dibandingkan lebar belakang juga kerap dihindari.
Salah satu alasannya adalah karena orang mempercayai ukuran lebar rumah berpengaruh pada rejeki si pemilik rumah.
Namun, rumah dengan lebar bagian depan tentunya tidak dapat dimanfaatkan untuk menjawab kebutuhan ruang pemilik rumah.
Nah, bagaimana dengan Anda?
Ini Hal-hal yang Wajib Diperhatikan Saat Anda Nekat Renovasi Rumah Di Musim Hujan
TRIBUNJUALBELI.COM - Belakangan intensitas hujan yang turun terbilang cukup tinggi.
Bahkan hujan bisa turun sepanjang hari.
Tentu hal ini menjadi berkah dan tentu mulai munculnya beberapa kendala.
Salah satunya saat Anda berencana membangun rumah.
Dana yang telah terkumpul pasti membuat Anda ingin segera membangun atau merenovasi rumah.
Padahal diketahui sebaiknya membangun rumah di musim kemarau.
Walaupun panas dan kering, risiko yang akan Anda hadapi jauh lebih sedikit ketimbang membangun rumah di musim hujan seperti saat ini.
Masalahnya, rezeki tak datang sesuai keinginan Anda, bukan?
Namun, apa bisa bangun rumah di musim hujan?
Jawabannya, tentu saja bisa.
Namun, "kenekatan" Anda harus juga diimbangi dengan strategi tepat.
Kenali dulu bahan bangunan yang akan Anda gunakan, serta pastikan pekerja membangun rumah Anda bekerja dengan baik.
Yang dimaksud dengan "mengenal bahan bangunan" adalah Anda mengetahui sifat bahan tersebut dan ketahanan bahan terhadap air hujan.
Batu kali, yang digunakan untuk pondasi, adalah material sangat tahan air hujan.
Maka, ketika hujan datang, jangan sibuk menutupi batu kali dengan terpal.
Lebih baik, Anda segera "mengamankan" bahan-bahan lain seperti pasir, batu bata, dan semen.
Pasir sebenarnya tidak perlu diletakkan di tempat tertutup.
Namun, pasir dapat dengan mudah terbawa angin keras dan hujan deras.
Belilah pasir secara bertahap agar Anda tidak perlu repot menjaga pasir Anda tetap utuh.
Lain halnya dengan batu bata dan semen.
Satu atau dua kali, batu bata dapat toleran dengan air hujan.
Namun, jika sering terpapar air hujan, batu bata dapat hancur.
Untuk itu, berikan alas untuk batu bata.
Dengan memakai alas, batu bata tidak akan langsung terkena tanah yang lembab.
Berbeda dengan batu bata, Anda harus super hati-hati dengan semen.
Semen dapat mengeras jika terkena air dan udara dalam kelembaban uap air tinggi.
Agar terhindar dari hal tersebut, berikan alas balok dan papan untuk semen.
Selain itu, belilah semen secara bertahap.
Selain bahan-bahan tersebut, ada baiknya Anda berhati-hati dengan lantai kayu dan papan gipsum.
Baik lantai kayu maupun papan gipsum keduanya tersedia dari begitu banyak jenis dan kualitas.
Umumnya, kualitas rendah dan standar tidak mampu menahan paparan air hujan.
Semoga terwujud rumah impian Anda!
(TribunJualBeli.com/ Alieza Nurulita)