0

Gelar Prosesi Pernikahan Kahiyang Ayu, Ini Makna Mendalam Kenapa Harus Presiden Jokowi Sendiri yang Memasang Bleketepe

Penulis: Alieza Nurulita Dewi
Gelar Prosesi Pernikahan Kahiyang Ayu, Ini Makna Mendalam Kenapa Harus Presiden Jokowi Sendiri yang Memasang Bleketepe

TRIBUNJUALBELI.COM - Pernikahan Kahiyang Ayu dan Bobby Nasution sepertinya bakal menjadi royal wedding jelang penghujung tahun 2017 ini.

Bagaimana tidak, Presiden Joko Widodo akan menggelar hajat besar untuk menikahkan putri semata wayangnya.

(Baca: Pilihan Paket Pernikahan yang Bisa Menekan Budgetmu)

Sebelum akad nikah berlangsung pada Rabu (8/11/2017), kedua mempelai menjalankan serangkaian prosesi adat Jawa.

Prosesi dimulai dengan pengajian di kediaman Jokowi di Banjarsari Surakarta, pada Senin (6/11/2017) sore.

Pada Selasa (7/11/2017) prosesi dilanjut dengan acara siraman oleh kedua mempelai yang berlangsung di dua tempat berbeda.

Namun sebelum melakukan prosesi siraman, ada beberapa hal yang harus dilakukan terlebih dahulu.

Yaitu pemasangan bleketepe di teras dekat pintu utama kediaman Jokowi.

Prosesi ini dilakukan oleh bapak pengantin wanita, dalam hal ini adalah Presiden Jokowi.

Jika menurut tata cara, maka Jokowi sendiri yang akan memasang bleketepe yang dibantu sang istri, Iriana.

Dilansir dari Tribunnews, Sejarawan Kota Solo, Heri Priyatmoko mengatakan dalam pranata pernikahan Jawa mengharuskan Jokowi sendiri untuk memasang bleketepe di teras dekat pintu utama.


 

"Pantang disamakan dengan acara rapat kenegaraan atau menyambut tamu asing yang bebas main tunjuk untuk mewakili, jadi harus pak Jokowi sendiri," katanya.

Tradisi memasang ’blaketepe’ atau anyaman daun kelapa ini untuk dijadikan atap atau peneduh resepsi manten.

Tatacara ini menjadi perlambang gotong royong kedua orang tua yang menjadi pengayom keluarga.

Tradisi bleketepe yang terbuat dari anyaman daun kelapa ini dimaksud untuk dijadikan atap atau peneduh resepsi manten.

Tradisi ini mengambil ajaran Ki Ageng Tarub, salah satu leluhur raja mataram.

Makna dari tradisi bleketepe adalah sebagai peneduh, dan lambang ketentraman.

Setelah bleketepe sudah terpasang, giliran pemasangan tuwuhan di depan pintu rumah.

Sedangkan tuwuhan mengandung arti suatu harapan kepada anak yang dinikahkan agar segera memiliki keturunan.

Tuwuhan terdiri dari :

- Pohon Pisang Raja yang buahnya sudah matang


 

Maksud dipilih pisang yang sudah masak adalah diharapkan pasangan yang akan menikah telah memiliki pemikiran dewasa atau telah masak.

Sedangkan pisang raja mempunyai makna pengharapan agar pasangan yang akan dinikahkan kelak mempunyai kemakmuran, kemuliaan dan kehormatan seperti raja.

- Tebu Wulung

Tebu wulung berwarna merah tua sebagai gambaran tuk-ing memanis atau sumber rasa manis.

Hal ini melambangkan kehidupan yang serba enak. Sedangkan makna wulung bagi orang Jawa berarti sepuh atau tua.

Setelah memasuki jenjang perkawinan, diharapkan kedua mempelai mempunyai jiwa sepuh yang selalu bertindak dengan ’kewicaksanaan’ atau kebijakan

- Cengkir Gadhing

Merupakan simbol dari kandungan tempat jabang bayi atau lambang keturunan.

- Daun randu dan pari sewuli

Randu melambangkan sandang, sedangkan pari melambangkan pangan.


 

Sehingga hal itu bermakna agar kedua mempelai selalu tercukupi sandang dan pangannya.

- Godhong (Dedaunan)

Bermacam-macam varian daun, seperti daun beringin yang melambangkan pengayoman, rumput alang-alang dengan harapan terbebas dari segala halangan.

Setelah pasang bleketepe dan tuwuhan, maka prosesi baru dilanjutkan dengan upacara siraman.

(TribunJualBeli.com/ Alieza Nurulita)