BLOG.TRIBUNJUALBELI.COM - Ketika pernikahan dengan mengusung konsep Nusantara, ada berbagai macam suku yang dapat digunakan.
Pada masing-masing suku ini memiliki ciri khas untuk pakaian, riasan hingga hiasan kepalanya.
Tidak hanya sebagai penanda suatu suku, itu juga menambah kecantikan mempelai wanita.
Kerajinan untuk kepala ini tidak hanya sebagai pemanis saja, namun memiliki arti loh.
Berikut ini kerajinan hiasan kepala untuk pengantin di Indonesia.
1. Suntiang
Suntiang adalah aksesoris kepala yang dipakai oleh pengantin wanita yang berasal adat Minangkabau di Sumatera Barat.
Memiliki desain yang bertingkat-tingkat dengan bentuk setengah lingkaran.
Biasanya suntiang dihiasi dengan motif bunga-bunga diantaranya motif bunga kecubung, melati, mawar, dan masih banyak lainnya.
Pada setiap bunga memiliki makna tersendiri, misalnya bunga melati melambangkan mempelai wanita akan menjadi ratu sehari.
Suntiang yang dikenakan pengantin wanita memiliki berat sekitar lima hingga enam kilogram.
Walaupun berat, pengantin harus bisa tetap bersikap anggun selama prosesi pernikahan berlangsung.
Bobot yang berat tersebut karena suntiang terdiri dari logam.
2. Bulang emas
Setpres
Bulang emas adalah mahkota yang dikenakan oleh wanita dari suku Mandailing, Sumatera Utara.
Memiliki bentuk yang khas seperti tanduk kerbau bertingkat yang menunjukkan jumlah hewan yang dipotong saat pesta pernikahan.
Tingkatan itu memiliki makna, semakin tinggi bulang emasnya maka semakin tinggi pula status sosial mempelai wanita.
Dulunya bulang emas ini beratnya mencapai delapan kilogram.
Namun saat ini materialnya sudah disesuaikan lebih ringan agar pengantin tidak kelelahan.
Bulang emas memiliki makna tanggung jawab dan komitmen untuk melewati masa-masa sulit dalam pernihannya.
3. Siger sunda
Tidak asing lagi dong dengan hiasan pengantin yang satu ini.
Banyak artis Ibu Kota menggunakan siger sunda saat pernihannya.
Siger sunda berasal dari Jawa Barat, bentuknya mahkota simple namun tampak elegan.
Memiliki warna putih atau perah yang membuatnya makin tampak bersinar.
Dibuat dari material logam yang detailnya dari bunga melati di sisi kanan dan kirinya.
Motif tersebut memiliki makna kemurnian dan kesucian, ditambah kembang tanjung berbentuk hati.
Bentuk dari siger sunda yang memuncak memberi makna, kita harus kembali kepada yang di atas.
4. Cunduk mentul
Pengantin yang berasal dari suku Jawa khususnya wilayah Yogyakarta menggunakan cunduk mentul.
Hiasan kepala ini memiliki ciri khas ditusuk pada sanggul yang disematkan di atas kepala mempelai wanita.
Cunduk mentul melambangkan sinar matahari. yang memberikan makna kehidupan, kehangatan, dan cahaya bagi alam semesta.
Tidak boleh asal menggunakan jumlah cunduk mentul pada pengantin wanita.
Harus menggunakan angka ganjil, ini melambangkan nilai spiritual, kesucian, dan kesejahteraan.
Satu buah cunduk mentul melambangkan keesaan Tuhan, tiga buah melambangkan trimurti.
Kalau untuk lima buah melambangkan rukun islam, dan 7 buah cunduk mentul melambangkan pertolongan, kemudahan, dan kesempurnaan.
5. Gelungan payas agung
Pengantin wanita dari Bali menggunakan hiasan kepala payas agung saat menikah.
Bentuknya mahkota tinggi yang susunan sandat emas dan srinata, lengkungan di kepala berwarna emas.
Gelungan payas agung ini beratnya hingga empat kilogram.
Dahulunya mahkota tradisional Bali ini dipakai oleh raja, bangsawan, dan keturunan aksta Triwangsa.
Bentuknya yang menjlang tinggi ini melambangkan keagungan, kemakmuran, dan pengormatan tertinggi kepada dewa dan lelulur.