TRIBUNJUALBELI.COM - Kenaikan harga Pertamina Dex belakangan ini membuat banyak pengguna kendaraan diesel mulai mencari alternatif bahan bakar yang lebih terjangkau.
Namun, keputusan untuk beralih ke solar tidak bisa dilakukan secara sembarangan.
Meski sama-sama digunakan untuk mesin diesel, keduanya memiliki perbedaan kualitas yang cukup signifikan dan dapat memengaruhi performa hingga usia pakai mesin.
Oleh karena itu, penting bagi pengguna untuk memahami perbedaan Pertamina Dex dan solar (biosolar) sebelum memutuskan beralih, agar tetap sesuai dengan kebutuhan kendaraan dan tidak menimbulkan risiko di kemudian hari.
Perbedaan antara Pertamina Dex dan solar (biosolar)
Pertamina Dex dan solar (biosolar) sering menjadi pertanyaan, terutama bagi pengguna kendaraan diesel.
Keduanya memang sama-sama digunakan untuk mesin diesel, tetapi memiliki kualitas, kandungan, serta dampak performa yang berbeda. Berikut penjelasan lengkapnya.
Pertamina Dex merupakan bahan bakar diesel non-subsidi dengan kualitas lebih tinggi dibandingkan solar biasa.
Sementara itu, solar (biosolar) adalah BBM subsidi yang lebih banyak digunakan karena harganya lebih terjangkau.
Perbedaan paling mendasar terletak pada angka cetane (CN), kandungan sulfur, serta efeknya terhadap mesin.
Dari sisi angka cetane, Pertamina Dex memiliki nilai sekitar 53, sedangkan solar berada di kisaran 48.
Cetane number sendiri berfungsi seperti oktan pada bensin, yaitu menentukan seberapa mudah bahan bakar terbakar di dalam mesin.
Semakin tinggi angka cetane, proses pembakaran akan semakin cepat dan sempurna.
Inilah alasan mengapa Pertamina Dex mampu menghasilkan tenaga yang lebih responsif dan suara mesin yang lebih halus dibandingkan solar biasa.
Selain itu, perbedaan signifikan juga terlihat pada kandungan sulfur.
Pertamina Dex memiliki kadar sulfur yang jauh lebih rendah, yaitu di bawah 300 ppm.
Sebaliknya, solar memiliki kandungan sulfur yang jauh lebih tinggi, bahkan bisa mencapai ribuan ppm.
Kandungan sulfur yang rendah sangat penting karena dapat mengurangi emisi gas buang dan lebih ramah lingkungan.
Tidak hanya itu, sulfur yang rendah juga membantu menjaga komponen mesin agar tidak cepat berkarat atau mengalami kerusakan.
Dari segi komposisi, solar subsidi umumnya mengandung campuran biodiesel atau FAME (Fatty Acid Methyl Ester) dalam jumlah cukup tinggi, bahkan hingga sekitar 20–30 persen.
Kandungan ini memang membantu mendukung energi terbarukan, tetapi bisa memengaruhi performa mesin jika tidak diimbangi dengan teknologi mesin yang sesuai.
Sementara itu, Pertamina Dex dilengkapi berbagai zat aditif seperti detergency, anti-karat, dan anti-buih yang membantu menjaga kebersihan mesin dan meningkatkan kualitas pembakaran.
Dampaknya terhadap performa mesin juga cukup terasa.
Penggunaan Pertamina Dex membuat pembakaran lebih sempurna sehingga tenaga mesin lebih optimal, akselerasi lebih halus, dan suara mesin tidak terlalu kasar.
Selain itu, residu pembakaran yang lebih sedikit juga membantu memperpanjang umur mesin.
Sebaliknya, penggunaan solar biasa cenderung menghasilkan pembakaran yang kurang sempurna, sehingga berpotensi menimbulkan asap lebih banyak dan membuat mesin lebih cepat kotor.
Dari sisi penggunaan, solar lebih cocok untuk kendaraan diesel lama atau kendaraan komersial yang tidak terlalu membutuhkan performa tinggi.
Sementara Pertamina Dex lebih direkomendasikan untuk kendaraan diesel modern, terutama yang sudah menggunakan teknologi common rail, karena membutuhkan bahan bakar dengan kualitas lebih baik.
Kesimpulannya, perbedaan utama Pertamina Dex dan solar terletak pada kualitas.
Pertamina Dex unggul dari segi cetane number yang lebih tinggi, kandungan sulfur yang lebih rendah, serta adanya aditif yang mendukung performa mesin.
Sementara solar lebih ekonomis, tetapi kualitasnya berada di bawah Pertamina Dex.
Oleh karena itu, pemilihan bahan bakar sebaiknya disesuaikan dengan jenis kendaraan dan kebutuhan penggunaan sehari-hari. (*)