TRIBUNJJUALBELI.COM – Media sosial X (dulu Twitter) diramaikan dengan istilah stockholm syndrome, terkait masa gencatan senjata antara Hamas dengan Israel di Gaza.
Pada masa gencatan senjata tersebut, Hamas dan Israel saling melepaskan tawanan untuk dikembalikan ke keluarga masing-masing.
Banyak akun X menyebutkan bahwa tawanan Hamas yang kebanyakan warga Israel terlihat memiliki raut wajah bahagia serta sempat melambaikan tangan dan berfoto bersama dengan pasukan Hamas.
Baca Juga: Cara Klaim Biaya Pengobatan Autisme dan Down Syndrome Melalui BPJS Kesehatan
Beberapa warganet menyebut tawanan Hamas mengalami stockholm syndrome.
Dalam sebuah video, terlihat seorang tentara Hamas dan tawanan perempuan saling mengucapkan selamat tinggal satu sama lain.
Lantas, apakah stockholm syndrom tersebut? Simak yuk informasinya berikut ini.
Apa Itu Stockholm Syndrome?
Stockholm syndrome adalah gangguan psikologis yang dapat terjadi pada korban penculikan, penyekapan, dan penyanderaan.
Kondisi inilah yang terkadang memicu munculnya kejadian yang tidak terduga pada korban-korban penculikan.
Dimana, setelah kejadian tersebut, korban justru menyukai dan membela tindakan pelaku yang menculik dirinya.
Namun, seiring berjalannya waktu, Stockholm syndrome tidak hanya terjadi pada korban penculikan.
Lebih luas dari itu, kondisi ini juga bisa dialami oleh orang-orang yang terjebak dalam toxic relationship, seperti KDRT (kekerasan dalam rumah tangga).
Beli Disini Kaos Stockholm Syndrome Biru Laut
Gejala Stockholm Syndrome
Orang dengan stockholm syndrome biasanya memiliki tanda-tanda sebagai berikut:
- Perasaan positif terhadap penculik atau pelaku kekerasan
- Simpati terhadap keyakinan dan perilaku penculiknya
- Perasaan negatif terhadap polisi atau figur otoritas lainnya
Gejala lain yang mirip dengan gangguan stres pascatrauma (PTSD) adalah:
- Kilas balik (flashback)
- Merasa tidak percaya, jengkel, gelisah atau cemas
- Tidak bisa bersantai atau menikmati hal-hal yang sebelumnya Anda nikmati
- Kesulitan berkonsentrasi
Nah itu dia, merupakan beberapa gejala yang dialami oleh penderita stockholm syndrome.
Meski tak jelas penyebabnya, namun sindrom ini dianggap sebagai cara bertahan hidup.
Seseorang mungkin menciptakan ikatan ini sebagai cara untuk mengatasi situasi ekstrem dan menakutkan.
Beli Disini Buku Stockholm Syndrome Mencintai Walau Tersakiti
Beberapa hal penting tampaknya meningkatkan kemungkinan terjadinya stockholm syndrome, di antaranya:
- Berada dalam situasi yang penuh emosi untuk waktu yang lama
- Berada di ruang bersama dengan penyandera dengan kondisi yang buruk (misalnya tidak cukup makanan, ruang yang secara fisik tidak nyaman)
- Ketika sandera bergantung pada penyandera untuk kebutuhan dasar
- Ketika ancaman terhadap nyawa tidak dilakukan (misalnya eksekusi palsu)
- Ketika para sandera belum mengalami dehumanisasi
Seseorang mungkin dianiaya dan diancam dengan kejam oleh penculik atau pelaku kekerasan, namun mereka juga bergantung pada mereka untuk bertahan hidup.
Jika pelakunya baik hati, mereka mungkin akan menganggap hal ini sebagai mekanisme bertahan hidup.
Korban penyanderaan seperti sandera Hamas yang mengalami stockholm syndrome ini mungkin bersimpati terhadap mereka atas kebaikan ini.
Tidak ada pengobatan khusus untuk mengatasi kondisi ini.
Meski begitu, Stockholm syndrome masih bisa disembuhkan dengan beberapa metode umum, seperti pemberian obat untuk mengatasi kecemasan dan terapi psikologis (psikoterapi).
Biasanya, psikolog dan psikiater juga menyarankan pengidap Stockholm syndrome menjalani rehabilitasi.
Namun, durasi rehabilitasi pada setiap pengidap berbeda-beda, tergantung dari seberapa kuat ikatan emosional yang telah terbentuk antara korban dan pelaku. (*)
(Pramanuhara/TribunJualbeli.com)