0

Sempat Jadi Guyonan Netizen, Program Rumah Apung Milik Agus Yudhoyono Ternyata Bisa Direalisasikan di Jakarta Lho!

Penulis: Achadiyah Nurul
Sempat Jadi Guyonan Netizen, Program Rumah Apung Milik Agus Yudhoyono Ternyata Bisa Direalisasikan di Jakarta Lho!

TRIBUNJUALBELI.COM - Ada beberapa wilayah yang cocok sebagai tempat pembangunan rumah apung.

Termasuk di Provinsi DKI Jakarta diklaim menjadi salah tempat tepat guna membangun rumah apung tersebut.

Namun, pembangunan rumah apung di Jakarta bisa dilakukan dengan berbagai macam syarat.

Rumah Siap Huni dekat Green Lake City Jakarta Barat Sejuk Bebas Banjir

Salah halnya adalah tidak dibangun di sungai seperti misalnya di Kalimantan atau Sumatera.

"Di Jakarta, untuk mengantisipasi kenaikan muka air laut, rumah apung bisa dibangun di pantai, khususnya untuk nelayan yang terdampak naiknya muka air laut tersebut," kata Arsitek sekaligus Dosen Jurusan Arsitektur Universitas Palangkaraya Wijanarka Arka, kepada KompasProperti, Kamis (2/3/2017).

Pada dasarnya, rumah apung zaman dulu dibangun di sungai-sungai dengan kelebaran cukup besar.

Tak heran jika rumah apung lebih banyak ada di Kalimantan dan Sumatera.

Sedangkan di Jakarta, sungai-sungainya disebut Arka tidak cukup lebar dan dalam untuk bisa menjadi lokasi pembangunan rumah apung.

Namun, dia menyarankan, jika Jakarta menginginkan adanya rumah apung bisa dicoba Arsitektur Terapung Sementara dengan jangka waktu tiga bulan saja.

Lalu, apa saja kendala pembangunan tersebut?


 

Sekarang ini kalau mau membuat rumah apung kendalanya ada di peraturan bangunan di sempadan sungai.

"Sebagai bangunan publik dengan lebar empat sampai enam meter yang bisa diapungkan di kanal sebelah ruang publik Kalijodo. "

"Namun, tetap harus dilihat dulu kedalaman airnya berapa, baik saat normal maupun surut maksimal," jelas Arka.

Idealnya rumah terapung harus ada di sungai-sungai dengan lebar lebih dari 100 meter. Tujuannya agar tidak menganggu lalu lintas perahu atau kapal yang ada di sungai.

Model pondasi apung dengan turbin milik Wijanraka Arka | Kompas.com

Selain itu, Arka menambahkan, ke depannya dengan semakin tingginya kenaikan muka air laut tidak menutup kemungkinan rumah apung di Jakarta dan kota-kota lainnya akan menjadi tren kembali dan dibuat secara massal dengan sistem prefabrikasi seperti di Belanda.

"Sementara kalau di daerah dengan sungai berukuran cukup besar dipertimbangkan untuk bisa walaupun harus dibatasi panjang, lebar, dan sanitasinya supaya nggak mengotori," jelas Arka.

"Sedangkan untuk kedalaman sungai minimal dua meter karena konstruksi untuk pondasi apungnya butuh satu meter sehingga 70 persen pondasi apung harus tenggelam dan 30 persen sisanya terapung," tambah dia.

Syarat berikutnya adalah berat rumah yang mampu ditopang oleh pondasi apung tidak melebihi batas beratnya.

Misalnya pondasi apung punya beban maksimal 1.000 kilogram, sebaiknya untuk di atasnya maksimal 700 kilogram atau idealnya 500 kilogram.

"Jadi perbandingannya 2:1. Ini bisa diperoleh dengan memilih bahan untuk lantai, dinding, dan material lainnya yang ringan," tutup Arka.  ( Ridwan Aji Pitoko / Kompas.com )