0

Milenial Amerika Sulit Punya Rumah Sendiri, Gimana di Indonesia?

Penulis: Andra Kusuma
Milenial Amerika Sulit Punya Rumah Sendiri, Gimana di Indonesia?

TRIBUNJUALBELI.COM - Memiliki rumah tentu menjadi impian bagi banyak orang.

Meski untuk membeli rumah bukan suatu hal yang mudah.

Butuh kondisi keuangan yang sehat dan perhitungan yang matang.

Di Amerika misalnya, generasi milenial yang menjadi populasi terbesar saat ini, tidak seluruhnya memiliki rumah.

Sejumlah lembaga penelitian memprediksi kepemilikan rumah millineal saat ini justru lebih rendah dari kepemilikan rumah generasi sebelumnya, atau generasi orang tua mereka.

BACA JUGA : Rumah Murah 100 Jutaan Dp 1 Persen di Dekat Jakarta Ini Cocok untuk Dimiliki

BACA JUGA : Rumah Seharga 1,1 Miliar Untuk Milenial, Cicilan 6 Juta Per Bulan, Berminat?

Laporan Kepemilikan Rumah Milenial Urban Institute Tahun 2018 menyebut, tingkat kepemilikan rumah milenial 8 persen lebih rendah dari Gen X dan baby boomer pada usia yang sama.

Kepemilikan rumah generasi baby boomers berada di angka 45 persen, sedangkan generasi X berada di angka 45,4 persen.

Angka tersebut cukup tinggi bila dibandingkan dengan milenial yang hanya berada di angka 37 persen.

Meski industri saat ini telah banyak memberikan sejumlah insentif untuk memudahkan calon konsumennya dalam memiliki rumah, tetapi hal itu masih sulit untuk memacu kembali tren pembelian rumah oleh milenial.

Bahkan, sudah menjadi hal umum bagi dewasa muda Amerika untuk memilih tinggal di rumah dalam beberapa tahun terakhir karena masalah keuangan.

Pada 2018, sekitar 25 juta orang Amerika berusia 18 hingga 34 tahun sudah tinggal di rumah.



Menurut analisis data Pew dari Biro Sensus, Pandemi Covid-19 telah memperparah kondisi keuangan milenial Amerika.

Milenial Amerika punya masalah hutang

Milenial adalah generasi paling terdidik dalam sejarah Amerika, tetapi banyak yang masih menanggung beban pinjaman pelajar (study loan).

Pusat Penelitian Pew menemukan bahwa jumlah rumah tangga dengan hutang pinjaman siswa meningkat dua kali lipat dari tahun 1998 hingga 2016.

Jumlah rata-rata hutang yang dimiliki oleh kaum milenial adalah 19.000 dollar AS atau Rp 267 juta lebih tinggi dari 12.800 dollar AS atau Rp 180 juta yang dimiliki oleh Generasi X.

Ketika rasio hutang terhadap pendapatan kaum milenial meningkat, mereka cenderung tidak dapat menabung untuk uang muka.

Selain tanggungan biaya pinjaman pendidikan yang mahal, kaum milenial Amerika lebih memilih menyewa tempat tinggal di lokasi yang cenderung lebih mahal.

The Urban Institute menemukan bahwa hampir setengah dari rumah tangga yang dikepalai oleh orang-orang berusia 18 hingga 34 tahun dibebani sewa.

Ini berarti bahwa mereka membayar lebih dari 30 persen dari gaji mereka hanya untuk menutupi sewa.

Dengan pola hidup migrasi milenial Amerika yang seperti itu, tentu akan mempengaruhi tingkat kepemilikan rumah secara negatif.



Laporan tersebut menunjukkan bahwa rumah tangga yang lebih berpendidikan pindah ke kota dengan populasi yang sudah sangat terampil.

Ambil contoh kota-kota seperti New York atau San Francisco, yang dikenal sebagai pusat keuangan dan inovasi, dan juga dikenal sangat mahal untuk ditinggali.

Covid-19 memang telah menyebabkan harga sewa turun di kota-kota besar karena lebih banyak pekerja berpengetahuan pindah dari daerah perkotaan.

Hal itu dibantu oleh perubahan besar dalam kebijakan kerja dari rumah (work from home) oleh perusahaan.

Namun, tren seperti itu justru malah menaikkan harga rumah di pinggiran kota.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Milenial Amerika Makin Kesulitan Beli Rumah, Ini Alasannya...",
Penulis : Ardiansyah Fadli
Editor : Hilda B Alexander