0

Berjualan Produknya Dipinggir Jalan Selama Covid-19, Satu Toko Pizza Hut Bisa Raup untuk 200 Juta per Bulannya

Penulis: Andra Kusuma
Berjualan Produknya Dipinggir Jalan Selama Covid-19, Satu Toko Pizza Hut Bisa Raup untuk 200 Juta per Bulannya

TRIBUNJUALBELI.COM - Di masa pandemi Covid-19, ada beberapa perusahaan retail memilih menyasar pasar bawah guna menambah pemasukan perusahaan.

Artinya, beberapa pegawai berjualan di jalan-jalan yang dipilih oleh perusahaan tersebut, memanfaatkan sedikit apapun peluang penjualan.

Salah satu perusahaan yang menjual produknya di jalan adalah Pizza Hut Buaran, Jakarta Timur.

Setiap hari ada dua tiga pegawai yang menjajakan pizza di Jalan Raden Inten II, tak jauh dari perempatan (lampu merah) Buaran.

Warta Kota pun bertemu dengan manajer restoran Pizza Hut Buaran, Vanda debora Sihite dan menanyakan seputar strategi turun ke jalan ala timnya.

Dari keterangan yang diberikan oleh Vanda, ada dua strategi yang dilakukan pihaknya di masa pembatasan sosial berskala besar (PSBB).

Pertama lewat berjualan di jalan, kedua dengan sistem door to door, dimana karyawan akan menjual atau menawarkan pizza dari rumah ke rumah.

"Kami menjemput bola. Kami siapkan produk kami saat pagi sesuai standar, baik kebersihan tas, serta kebersihan box dan suhu di dalam tas, semaksimal mungkin pelayanannya," ucap Vanda kepada Warta Kota, Senin (9/11/2020).

"Untuk karyawan kami lengkapi dengan sarung tangan, masker, face shield juga. Kalau normalnya kan pembeli datang ke resto, tapi sekarang kami yang menawarkan ke rumah-rumah. Kami juga menawarkan, jika mereka ingin pesan, bisa lewat telpon, kami akan hantarkan," tambahnya.

Meski menjual di jalanan, Vanda menjelaskan keamanan dan kebersihan produk mereka kan tetap terjaga.



Selain sudah memiliki tempat, proses penghantaran produk sudah di atur sedemikian rupa.

"Dari sini (restoran) kami akan packing pakai tas, agar aman dari debu. Dalam tas itu ada sudah didesain untuk menahan panas, agar pizza kami tidak dingin," tambah manajer kelahiran Jakarta, 5 November 1979 ini.

Lantas, ia pun punya alasan Jalan Raden Inten II sebagai lokasi berjualan bagi timnya.

Lokasi yang strategis dan tak jauh dari restoran menjadi alasan kuat.

Meski begitu, ada pula risiko dan suka-duka yang dialami oleh timnya.

"Sukanya kalau jualan laku ya. Itu pasti. Tapi kalau dukanya, kami akan kehujanan, dibawah panas terik juga, ada yang memandang rendah pula, kadang kami nawarin tapi tidak digubris. Namanya usaha ya harus dijalanin.

Kalau hujan deras disertai angin, kami harus nyelamatin produk ya, gimana biar tetap aman. Kadang kami numpang ke teras rumah yang ada dibelakang tenda," katanya.

"Saya ingat, waktu itu pernah ada penyemprotan disenfektan di jalan itu, dan kami kena. Sebagian produk kami terkena dan tak bisa dijual. Terbuang begitu saja, padahal pizza itu baru tiba. Sedih sih," sambungnya.

Berjualan sejak pukul 12.00 WIB hingga 19.00 WIB, Vanda mengklaim per bulan hasil penjualan di jalanan dapat mencapai Rp100 juta hingga Rp 200 juta.

Di mana per hari target minimal tim yang berjualan di jalanan adalah Rp1,5 juta, sedangkan tim door to door menjual tiga atau empat paket per hari.



Strategi ini pun membantu roda ekonomi perusahaan mereka.

"Sangat membantu sekali. Kami bersyukur sekali dengan kerja keras masing-masing karyawan," tambahnya.

Untuk menyemangati anggota timnya, Vanda memberikan motivasi soal bonus dari hasil penjualan, serta tunjangan transport dan makan di luar apa yang pegawainya dapatkan di kantor. (*)

Berita ini telah tayang di wartakotalive.com dengan judul Rela Turun ke Jalan Jajakan Produknya, Ternyata Satu Toko Pizza Hut bisa Raup Rp 200 Juta Per Bulan