TRIBUNJUALBELI.COM - Pernahkah kamu mengalami mimpi buruk yang berulang-ulang?
Hal tersebut bisa menjadi sinyal bahwa otakmu saat ini sedang memerlukan bantuan.
Sebuah karya ilmiah baru-baru ini menemukan adanya kaitan antara mimpi buruk dengan frustrasi berulang-ulang.
Hal tersebut ternyata berasal dari kebutuhan psikologis yang tidak terpenuhi.
Dipimpin oleh Netta Weinsten, seorang dosen senior psikologi sosial dan lingkungan Universitas Cardiff, sebuah tim psikolog mulai mengeksplorasi hubungan antara mimpi buruk dan pemenuhan tiga kebutuhan psikologis.
Di antaranya adalah kebutuhan otonomi, kompetensi, dan perasaan yang terhubung dengan orang lain.
Pada dua penelitian pertama, para peneliti bertanya kepada 200 sukarelawan apakah mereka mimpi buruk secara umum dan seberapa sering mereka mengalaminya.
Mimpi tersebut antara lain mimpi terjatuh, dikejar, dibuat takut, hingga telanjang di depan umum.
Mimpi terulang yang paling umum adalah diserang atau dikejar, jatuh, dan dibekukan ketakutan.
Sedangkan mimpi buruk yang paling umum adalah sedang diserang atau dikejar, dibekukan dengan rasa takut, dan dikurung.
Dalam studi kedua, 110 peserta diminta untuk menyelesaikan survei awal yang menilai apakah kebutuhan psikologis mereka terpenuhi.
Kemudian, selama tiga hari, mereka melaporkan perasaan kepuasan mental atau frustrasi setiap malam dan menggambarkan suasana hati mereka sehari-hari sebagai sesuatu yang positif atau negatif.
Mereka juga menyimpan buku harian mimpi selama waktu itu.
Dilansir dari viralnova, pada Senin (11/6/2018),meskipun menyebutkan kenangan akan mimpi bukanlah sesuatu yang paling bisa diandalkan, para periset menemukan sebuah tren dalam hasilnya.
Peserta yang melaporkan kebutuhan psikologis mereka tidak terpenuhi hari itu, mengalami mood negatif dan kemungkinan besar lebih sering mengalami mimpi buruk.
"Emosi mimpi negatif mungkin berakibat langsung dari kejadian mimpi yang menyusahkan," bunyi tulisan dalam penelitian tersebut.
Penelitian ini berhasil mewakili usaha para psikiatri untuk memproses dan memahami pengalaman yang terbangun secara psikologis.
(TribunJualBeli.com/Intan Hafrida)