TRIBUNJUALBELI.COM - Dalam mesin pencarian Google, Hamili Siswa SMP jadi hot trends pada hari ini (23/5/2018).
Hal ini berkaitan dengan tingkah bocah kelas V SD yang menghamili seorang siswa SMP kelas VIII.
Kejadian ini terungkap saat pihak sekolah memeriksakan bocah SMP yang terlihat tidak sehat.
Dari hasil pemeriksaan, siswa SMP 13 tahun itu diketahui hamil 6 bulan.
Berdasarkan pemberitaan, pria yang menghamili siswa SMP itu adalah sang kekasih yang masih duduk di bangku SD.
Di mata tetangga, siswa SD itu dikenal sosok siswa yang kurang rajin, dan dua kali tidak naik kelas.
Sehingga meski kelas V SD, secara seksual dirinya sudah matang.
Melihat kejadian ini, pihak Dinas Pendidikan setempat mengharapkan ada solusi terbaik untuk keduanya.
Terutama bagi siswa SMP yang kini tengah berbadan dua.
Terlepas itu, ada beberapa risiko yang akan mengintai perempuan yang hamil di usia sangat muda.
Dirangkum dari artikel berjudul "Inilah Risiko Hamil di Usia Remaja" yang dipublikasikan situs web depkes.go.id menjelaskan bagaimana kehamilan di usia muda memberi dampak buruk bagi para perempuan.
Masa remaja merupakan periode terjadinya pertumbuhan dan perkembangan yang pesat baik secara fisik, psikologis maupun intelektual.
Usia remaja biasanya memiliki rasa penasaran yang tinggi dan cenderung berani mengambil risiko atas apa yang dilakukannya tanpa mempertimbangkan terlebih dahulu.
Jika keputusan yang diambil dalam menghadapi konflik tidak tepat, mereka akan jatuh ke dalam perilaku berisiko dan mungkin harus menanggung akibat jangka pendek dan jangka panjang dalam berbagai masalah kesehatan fisik dan psikososial.
Kesehatan reproduksi adalah keadaan sehat secara fisik, mental, dan sosial secara utuh, tidak semata-mata bebas dari penyakit yang berkaitan dengan sistem, fungsi, dan proses reproduksi.
Kehamilan remaja berdampak negatif pada kesehatan remaja dan bayinya, juga dapat berdampak sosial dan ekonomi.
Kehamilan pada usia muda atau remaja antara lain berisiko kelahiran prematur, berat badan bayi lahir rendah (BBLR), perdarahan persalinan, yang dapat meningkatkan kematian ibu dan bayi.
Kehamilan pada remaja juga terkait dengan kehamilan tidak dikehendaki dan aborsi tidak aman.
Persalinan pada ibu di bawah usia 20 tahun memiliki kontribusi dalam tingginya angka kematian neonatal, bayi, dan balita.
Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) 2012 menunjukkan angka kematian neonatal, postneonatal, bayi dan balita pada ibu yang berusia kurang dari 20 tahun lebih tinggi dibandingkan pada ibu usia 20-39 tahun.
Pernikahan usia muda berisiko karena belum cukupnya kesiapan dari aspek kesehatan, mental emosional, pendidikan, sosial ekonomi, dan reproduksi.
Pendewasaan usia juga berkaitan dengan pengendalian kelahiran karena lamanya masa subur perempuan terkait dengan banyaknya anak yang akan dilahirkan.
Hal ini diakibatkan oleh pengetahuan remaja tentang kesehatan reproduksi belum memadai.
Hasil SDKI 2012 menunjukkan pengetahuan remaja tentang kesehatan reproduksi belum memadai.
Itu dapat dilihat dengan hanya 35,3% remaja perempuan dan 31,2% remaja laki-laki usia 15-19 tahun mengetahui bahwa perempuan dapat hamil dengan satu kali berhubungan seksual.
Begitu pula gejala PMS kurang diketahui oleh remaja.
Informasi tentang HIV relatif lebih banyak diterima oleh remaja, meskipun hanya 9,9% remaja perempuan dan 10,6% laki-laki memiliki pengetahuan komprehensif mengenai HIV-AIDS.
Sementara itu, dilansir dari alodokter ada sejumah bahaya yang mengintai ibu hamil di usia belia.
Risiko kematian ibu dan bayi
Di seluruh dunia, ada sekitar 50.000 remaja perempuan usia 15-19 tahun yang meninggal tiap tahun pada masa kehamilan atau pada saat proses persalinan.
Sekitar satu juta bayi yang lahir dari remaja perempuan juga meninggal sebelum usia mereka mencapai satu tahun.
Bayi dari seorang ibu yang melahirkan di bawah usia 18 tahun, 60 persen lebih berisiko meninggal sebelum satu tahun.
Risiko kelainan pada bayi
Bagi para perempuan yang hamil di usia muda, dan tidak mendapat dukungan dari keluarga atau pasangan, biasanya berisiko tinggi tidak mendapat perawatan yang memadai di masa kehamilan.
Padahal masa kehamilan adalah periode penting yang rawan komplikasi.
Kebutuhan nutrisi yang tidak tercukupi dengan baik dapat menyebabkan kelainan atau cacat bawaan lahir.
Tekanan darah tinggi dan bayi lahir prematur
Perempuan yang hamil di usia muda berisiko lebih tinggi mengidap tekanan darah tinggi dan preeklamsia.
Selain membahayakan ibu, kondisi ini juga dapat mengganggu perkembangan janin
Hal ini mendatangkan komplikasi seperti bayi yang lahir prematur.
Bayi lahir dengan berat badan di bawah normal
Perempuan yang hamil di usia terlalu muda berisiko tinggi melahirkan bayi dengan berat badan sangat rendah, kurang dari 1,5 kg.
Hal ini bisa terjadi karena kelahiran prematur atau di bawah usia kehamilan 37 minggu.
Bayi dengan berat badan kurang dari normal membutuhkan perawatan khusus, terutama untuk membantunya bernapas setelah dilahirkan.
Penyakit menular seksual
Remaja yang berhubungan seksual di usia muda lebih berisiko mengidap penyakit menular seksual, seperti HIV, klamidia, sifilis, dan herpes.
Penyakit-penyakit tersebut dapat ditularkan bahkan melalui hubungan seks termasuk seks oral atau anal.
Klamidia dan infeksi gonore pada wanita umumnya menyebabkan penyakit radang panggul (pelvic inflammatory disease/PID) yang dapat memicu gangguan pada tuba falopi.
Pada kondisi ini, pembuahan sel telur dapat terjadi di luar rahim atau disebut kehamilan ektopik.
Depresi pasca-melahirkan
Remaja perempuan lebih berisiko mengalami depresi pasca-melahirkan karena merasa tidak siap, terutama jika tidak mendapat dukungan dari keluarga dan/atau pasangan.
Depresi berisiko membuat remaja tidak mampu merawat bayinya dengan baik.
Remaja perempuan yang mengalami kehamilan yang tidak direncanakan juga sering menghadapi tekanan dari banyak pihak dalam berbagai bentuk.
Misalnya desakan untuk menggugurkan kandungan, ketakutan akan penghakiman dari masyarakat, atau kekhawatiran akan kemampuan finansial mengurus bayi di masa depan.
(TribunJualBeli.com/ Alieza Nurulita)