0

Indonesia Darurat Teroris, Begini Ciri-ciri Pelaku Bom Bunuh Diri yang Wajib Anda Waspadai

Penulis: Achadiyah Nurul
Indonesia Darurat Teroris, Begini Ciri-ciri Pelaku Bom Bunuh Diri yang Wajib Anda Waspadai

TRIBUNJUALBELI.COM - Baru saja Indonesia berduka setelah sebuah serangan teroris kembali terjadi, tepatnya di tiga gereja di Surabaya, Surabaya.

Tiga gereja yang dibom, yakni di Gereja Santa Maria Tak Bercela di Jl Ngagel Madya pukul 07.15 Wib, kemudian GKI di Jl Dipinegoro 07.45 Wib, dan GPPS Jl Arjuno 07.50 Wib.

Kabid Humas Polda Jatim Kombes Pol Frans Barung Mangera mengatakan, ada tiga bom yang meledak di Surabaya.

Atas insiden tersebut dilaporkan setidaknya lebih dari 10 orang meninggal dan 40 lainnya luka-luka pasca insiden tersebut.

Belum selesai duka akan serangan di tiga gereja di Surabaya, satu bom kembali meledak di depan mako Polrestabes Surabaya pada Senin (14/5/2018) pukul 08.50 WIB.

Banyak yang menduga-duga jika beberapa serangkaian serangan terorisme di Indonesia merupakan bagian dari aksi para pelaku teroris di dunia.

Untuk itulah mungkin untuk mencegah kejadian terulang kembali, sebuah rilisan diluncurkan untuk mengetahui bagaimana ciri-ciri orang yang hendak melakukan serangan bom bunuh diri.

Menurut PBB, dikutip dari Ibtimes, setidaknya ada tujuh jenis ciri-ciri orang yang hendak melakukan bom bunuh diri.

Berikut ini beberapa ciri-ciri tersebut:


1. Calon pelaku berusia 16-40 tahun, bisa perempuan maupun laki-laki ataupun bahkan anak-anak dengan rentan usia sekitar 8 hinga 15 tahun.

2. Bercukur jenggot dan kumisnya sebelum menjalankan serangan karena dirinya akan berada di kerumunan publik.

3. Paelaku biasanya sudah sangat baik dalam mengenali lingkungan sosialnya dan bisa membaur dengan kerumunan.

4. Memakai parfum dengan bau tak biasa, hal ini diyakini sebagai bagian dari ritual untuk persiapan ke surga.

5. Mengenakan baju ukuran besar dan tas ransel besar, meskipun cuaca sangat panas, karena hal ini untuk menyembunyikan bom di dalamnya.

6. Pelaku biasanya akan mengeluarkan keringat banyak sebelum beraksi, meskipun dalam cuaca dingin sekalipun, diyakini hal ini karena dirinya tengah tegang.

7. Pelaku biasanya berbicara pada dirinya sendiri dan tatapan pandangannya sangat fokus pada satu titik yang merupakan target serangannya. (Intisari Online/Afif Khoirul M)

Artikel ini sudah tayang di laman Intisari Online dengan judul Menurut PBB, Ternyata Begini Cara Mengenali Pelaku Bom Bunuh Diri

Kisah Pilu Dua Bocah Kakak Beradik yang Jadi Korban Ledakan Bom di Surabaya

TRIBUNJUALBELI.COM - Betapa hancurnya hati keluarga saat Nathanael (8) dinyatakan meninggal dunia pada Minggu (13/5/2018) sekitar pukul 20.12 WIB.

Pasalnya, pada siang harinya, keluarga asal Jalan Barata Jaya, Surabaya, ini kehilangan Vincencius Evan (11), kakak dari Nathanael, yang meninggal dunia dalam tragedi teror bom di Gereja Santa Maria Tak Bercela di Ngagel, Surabaya.

Wenny (47), Ibu Evan dan Nathanael, juga mengalami luka karena kejadian ini.

Dia telah menjalani operasi di RS Bedah Surabaya pada Minggu, sekitar pukul 16.00 WIB.


Susi, kerabat Wenny, mengatakan, Wenny bercerita bahwa dia melihat sendiri pelaku saat meledakkan diri di halaman gereja.

"Bu Wenny mengaku sempat menengok dan tahu sendiri ada pengendara motor menerobos satpam.

Tiba-tiba bom meledak," ucap Susi di RS Bhayangkara Polda Jatim, Minggu.

Bergandengan tangan Saat itu, lanjut Susi, Wenny dan anak-anaknya baru saja turun dari mobil bersama satu anggota keluarga lain.

Kepada Susi, Wenny bercerita, saat itu, dia tengah menggandeng putranya, Nathanael, dan kakaknya, Evan, berjalan beriringan.

Namun baru empat langkah berjalan, menurut Wenny, dia melihat ada motor menerobos halaman Gereja Katolik Santa Maria Tak Bercela dari arah belakang.

Susi mengatakan, Wenny juga sempat bercerita bahwa motor itu sempat dihalangi oleh satpam.

Lalu tiba-tiba suara ledakan keras terdengar. Wenny bersama keluarga dan dua anaknya pun terempas.

Belakangan, Susi tahu, sang satpam juga kemudian diketahui menjadi korban ledakan dan tubuhnya hancur.

Kritis Direktur RS Bedah Surabaya, dr Priyanto Swasono MARS menuturkan bahwa Nathanael sempat mengalami kondisi kritis setelah dibawa dalam kondisi luka parah ke rumah sakit.


Sebelum diumumkan meninggal dunia, Nathan disebutkan dalam kondisi stabil usai menjalani operasi amputasi kaki kanannya.

Namun kemudian, tekanan darah Nathan tiba-tiba drop.

"Dia banyak kehilangan darah akibat luka-lukanya sehingga tekanan darahnya drop," ungkap dr Priyanto.

Nathanael akhirnya mengembuskan napas terakhirnya di ruang IGD RS Bedah Surabaya pada pukul 20.12 WIB.

Sementara itu, sang kakak, Evan, disebutkan tiba di rumah sakit dalam kondisi luka parah lalu tak lama kemudian meninggal dunia.

"Ada luka bakar, luka patah dan luka lainnya," kata dr Priyanto.

Selanjutnya, jenazah Evan dibawa ke RS Bhayangkara untuk diotopsi.

Sampai akhir hari Minggu, jumlah korban tewas mencapai 14 orang, sedangkan jumlah korban luka mencapai 43 orang.

Korban luka dirawat di 8 rumah sakit di Surabaya, yaitu masing-masing RSU dr Soetomo 3 orang, RS William Booth 2 orang, RS Bhayangkara Polda Jatim 6 orang, RS Siloam 5 orang, RS Angkatan Laut dr Ramelan 1 orang, RS Bedah 14 orang, RKZ Surabaya 7 orang, dan RS Premier 5 orang.

Kabid Humas Polda Jatim Kombes Pol Frans Barung Mangera sebelumnya mengatakan, sebenarnya ada dua korban luka lagi yang dirawat di RS Undaan, tetapi sudah diperbolehkan pulang dan berstatus rawat jalan. (Kompas.com)