TRIBUNJUALBELI.COM - Pada 2012 pemerintah Indonesia menggulirkan peraturan untuk mobil murah di industri otomotif.
Para agen pemegang merek (APM) pun mulai melahirkan produk-produk baru untuk memenuhi hasrat pemerintah mempunyai produk yang khusus dibuat di Indonesia.
Seiring penjualan yang terus meningkat, semakin banyak pula pengemudi pemula di jalan raya.
Sayangnya, cukup banyak pengemudi pemula yang nekat untuk langsung terjun ke jalan raya dan tidak dibekali kemampuan dan pengetahuan dasar mengemudi yang memadai.
Marcell menyarankan, pengemudi pemula jangan nekat untuk langsung mengemudi ke jalan raya bila belum terlatih dengan baik.
Perlu diingat bahwa risiko kecelakaan di jalan raya sangat tinggi dan dampak terbesarnya adalah kematian.
Salah satu cara untuk meningkatkan kompetensi mengemudi ialah mengikuti pelatihan di tempat kursus mengemudi.
Baca juga : Mobil Honda Harga Murah nan Terjangkau? Ini Dia Pilihannya!
Tapi hindari sembarang memilih tempat kursus yang hanya mengajarkan soal skill atau kemampuan.
Membaca buku manual bisa meminimalkan kesalahan pengemudi pemula.
Putaran balik menjadi salah satu tempat rawan.
Jadi bukan yang langsung praktik tapi juga perlu teori seperti pengenalan peraturan dan rambu lalu lintas juga manajemen risiko agar tetap aman di jalan.
Seperti dikatakan Kepala Bengkel Toyota Sunter, Iwan Abdurahman, “Ada beberapa pengemudi baru yang tidak paham sama arti lampu indikator di dasbor.” Contohnya adalah lampu indikator ECO, beberapa pemilik mobil menganggap jika lampu tersebut menyala ada masalah pada mobilnya.
Ia menambahkan, kemalasan pengemudi untuk membaca buku manual menjadi salah satu penyebabnya.
Padahal tidak harus semua isi dari buku manual tersebut dibaca, paling tidak mengenali fitur dan arti lampu indikator.
Kalaupun semua lampu indikator menyala biasanya saat mobil mau dihidupkan.
Tapi saat mesin sudah hidup maka lampu di instrumen panel tersebut akan mati.
Kecuali lampu indikator airbags yang umumnya menyala sedikit lebih lama yakni 6 detik.
Saran untuk pengemudi lain bila bertemu dengan pengemudi pemula paling tepat adalah hindari atau menjauh.
Kalaupun dalam situasi macet misalnya, selalu menjaga jarak aman. Sehingga ada ruang jika ada perilaku yang membahayakan Anda.
Ada beberapa ciri untuk mengenali pengemudi pemula di jalan.
Meski tidak selalu berlaku untuk semua, tapi setidaknya beberapa perilaku ini bisa digunakan untuk mobil di depan kita dikemudikan oleh pengemudi pemula.
Simak : Mobil Suzuki Harga Miring? Ini Dia Spesifikasi Lengkapnya!
Sebenarnya cukup mudah melihat ciri pengemudi pemula saat bertemu di jalan raya.
Hal-hal kecil yang seharusnya tidak terjadi lagi untuk pengemudi yang lihai bisa menjadi indikasi bahwa si pengemudi belum terlatih.
Mesin sering mati khususnya saat jalan menanjak.
Biasanya mobil dengan transmisi manual yang mengalami hal ini.
Bila bertemu mobil ini maka buat jarak yang memadai bila Anda berada di belakangnya.
Kenali arti seluruh lampu indikator di instrumen panel.
Mobil murah identik dengan pengemudi pemula yang berpindah dari kendaraan roda dua
Salah satu yang membuat pengemudi pemula belum kompeten di jalan raya adalah pengetahuan rambu lalu lintas.
Seperti manajemen penempatan kendaraan di lajurnya belum sempurna sehingga cenderung memonopoli lajur atau tidak sesuai marka jalan.
Tentu ini membuat mobil lain di sekitarnya bingung apakah si pengemudi ingin di lajur kanan atau kiri.
Bahayanya bila pengemudi lain tidak sabar bisa terjadi tabrak samping.
Konsistensi merupakan ciri dari pengemudi yang sudah mahir.
Simak : Initip Mobil Mewah Tapi Harga Murah Asal Jerman Ini Yuk, Ada Banyak Ragamnya Lho!
Sementara pengemudi pemula sering melakukan perilaku inkonsisten.
Misalnya sein ke kiri tapi membelok ke kanan, atau lupa mematikan lampu sein.
Otomatis mobil di belakang menjadi bingung dan berbahaya ketika ingin menyusul.
Kebanyakan pengemudi pemula adalah orang yang bermigrasi dari sepeda motor ke mobil.
Cukup banyak yang membawa kebiasaan mengendarai roda dua ke roda empat ini.
“Sering kali pengemudi seperti ini tidak memberi jalan kepada mobil lain dan memaksakan masuk atau berpindah jalur dengan ceroboh,” jelas Marcell.
Observasi dalam mengemudi itu penting.
Bila performa observasi kurang, maka kewaspadaan pengemudi pada lingkungan sekeliling kendaraan menjadi kurang.
Akibatnya sering terjadi manuver mendadak karena tidak memastikan apakah ada kendaraan lain di depan, samping atau belakangnya.
Jelas ini sangat membahayakan terlebih bila dilakukan pada kecepatan tinggi.
Ketenangan saat mengemudi menjadi kunci agar terhindar dari kecelakaan.
Sayangnya pengemudi pemula umumnya lebih mudah panik.
Ketegangan ini terjadi karena terlalu fokus dalam mengoperasikan kendaraan sehingga saat ada kejadian yang membuatnya kaget langsung melakukan tindakan yang mendadak.
Contohnya banting setir atau mengerem secara mendadak.
(Autobild.co.id/MAHMUDI RESTYANTO)