TRIBUNJUALBELI.COM - Ternyata gangguan emosional dapat terjadi pada anak-anak yang memiliki tekanan akademis yang tinggi.
Belajar terus menerus tanpa diselingi bermain dan istirahat akan berdampak sangat buruk bagi anak.
Dilansir dari The Mirror pada Selasa (10/4/2018), sebuah survei yang dilakukan pada 420 anggota di sekolah akademik yang tersebar di Inggris.
Hasilnya sebanyak 48 persen siswa mengakui melukai dirinya sendiri, 43 persen siswa mengalami gangguan makan dan 20 persen melakukan percobaan bunuh diri akibat mengalami tekanan belajar.
Pada survei tersebut juga mengungkapkan bahwa 8 dari 10 staf sekolah harus menghadapi siswa yang memiliki masalah mental seminggu sekali.
The Association of Teachers and Lecturers pun menyalahkan sistem kurikulum yang diterapkan di Inggris yang dinilai terlalu padat dan berorientasi akan hasil ujian.
Namun ternyata bukan hanya siswa yang mengalami tekanan tinggi, para staf sekolah dan guru juga mengaku tertekan melihat murid-muridnya yang memiliki beban akademis tinggi.
"Saya kasihan dengan beban emosional yang ditanggung oleh para anak-anak," ujar staf di Sekolah Dasar Somerset.
Selain itu, para staf Sekolah Dasar Staffordshire juga mengatakan bahwa tekanan akademik yang dihadapi kelas enam SD ternyata jauh lebih besar dibanding tekanan yang dialami oleh kelas satu dan dua SMA.
Seorang konselor di Warwick School, Inggris juga mengatakan bahwa anak-anak zaman sekarang memiliki tingkat stres yang tinggi.
Sebab, mereka menghabiskan waktu berjam-jam di depan komputer dan tak memiliki kebebasan yang cukup.
Department for Education di Inggris mengatakan bahwa pihaknya telah menginvestasikan dana sebesar 1,4 miliar poundsterling atau sekitar 2 triliun rupiah untuk menyediakan spesialis mental.
Hal ini bertujuan untuk memberikan dukungan kepada para generasi muda yang mengalami masalah mental seperti gangguan makan dan melukai dirinya sendiri.
(TribunJualBeli.com/Intan Hafrida)