zoom-in lihat foto Mengenal Sindrom Putri Duyung, Penyakit Langka Mematikan yang Wajib Para Ibu Waspadai
Ilustrasi | keywordsuggest.org

TRIBUNJUALBELI.COM - Kasus sindrom Kleine-Levin (Sindrom Putri Tidur) seperti yang diderita bocah dari Banjarmasin, Siti Raisa Miranda (Echa) cukup menyita perhatian publik.

Bak dongeng Putri Tidur, Echa yang mengidap sindrom langka ini bisa tidur berhari-hari dan bangun hanya untuk makan dan ke kamar mandi.

Menurut penelitian, hanya ada sekitar 1.000 orang di seluruh dunia yang mengidap penyakit ini.

Tahukah Anda, selain Sindrom Putri Tidur, ternyata ada sindrom lain yang mirip cerita dongeng.

Yups, Sindrom Putri Duyung namanya.

Bulan Mei tahun lalu, seorang wanita berusia 23 tahun asal India bernama Muskura Bibi, melahirkan seorang bayi yang berbeda dari bayi-bayi lainnya.

Bayi yang dilahirkan oleh Muskura menderita Sindrom Putri Duyung dimana tubuh bagian atasnya normal tapi dari pinggang ke bawah tidak ada alat kelamin dan kedua kakinya menyatu seperti putri duyung di dalam dongeng.

Dilansir dari laman Meetdoctor, penyakit ini terjadi akibat kegagalan pasokan vaskular normal sehingga tali pusat gagal memasok darah yang cukup untuk janin sehingga janin tidak mendapat cukup oksigen dan nutrisi.

Arteri yang tidak cukup mendapat pasokan darah akan mengambil darah dari tubuh bagian bawah untuk dialirkan ke dalam plasenta.

Hal ini bisa mengakibatkan janin kekurangan gizi dan dan akibatnya tubuh bagian bawah gagal berkembang.


2 dari 4 halaman

Sindrom Putri Duyung adalah kasus yang sangat langka dan hanya terjadi satu dari 100 ribu kelahiran.

Sindrom langka ini lebih mungkin terjadi pada bayi kembar identik.

Sindrom Putri Duyung yang juga disebut sirenomelia adalah kondisi yang sangat mengancam nyawa.

Hampir tidak ada bayi dengan sindrom ini yang bisa bertahan hidup lama.

Kebanyakan meninggal sesaat setelah dilahirkan karena kebanyakan mereka tidak memiliki ginjal dan mengalami kegagalan kandung kemih.

Lalu apakah penyebab munculnya sindrom ini?

Belum diketahui pasti apa yang menyebabkannya penyakit ini.

Namun, ada beberapa faktor yang diduga dapat meningkatkan risikonya, yaitu;

- Wanita yang menderita penyakit serius selama kehamilan

- Mutasi gen dari ibu atau ayah bisa menjadi penyebab kelainan genetik pada bayi, termasuk kelainan Sindrom Putri Duyung.


3 dari 4 halaman

- Beberapa penelitian menunjukkan bahwa faktor lingkungan juga berpengaruh seperti paparan racun dan radiasi.

- Stres fisik dan mental

- Obat-obatan tertentu, kondisi medis atau kekurangan zat gizi tertentu juga bisa menjadi penyebab sindrom putri duyung.

Pengobatan Sindrom Putri Duyung

Biasanya sindroma ini telah diketahui sejak masa kehamilan yang ditandai dengan janin yang tidak berkembang.

Kalau pun kehamilan dipertahankan, sebagian besar bayi yang menderita sindrom duyung lahir dalam kondisi meninggal atau meninggal sesaat setelah dilahirkan.

Namun, ada tiga bayi yang bertahan hidup lebih lama dan menjalani pengobatan berupa:

1. Pembedahan rekonstruksi merupakan salah satu pilihan pengobatan sindrom duyung.

Namun, bahkan dengan pembedahan pun, harapan panjang umur pasien dengan sindrom ini masih sangat kecil.

2. Bagi bayi yang memiliki kaki menyatu atau pembuluh darah dan struktur lain yang tak terpisahkan, akan cukup sulit atau bahkan tidak mungkin melakukan operasi pada mereka.

4 dari 4 halaman

Kalaupun operasi bisa dilakukan dengan sukses, sangat mungkin pasien mengalami berbagai kompleksitas kesehatan di dalam hidupnya.

Dua dari tiga bayi Sindrom Putri Duyung yang bisa bertahan hidup, akhirnya meninggal dunia di usia 18 tahun (Tiffanny Yorks) dan 10 tahun (Shiloh Pepin).


Sedangkan Millagros Cerron yang lahir bulan April 2004, masih bertahan hidup setelah melakukan dua kali operasi.

Tim dokternya mengatakan, Millagros masih memerlukan waktu 10-15 tahun lagi untuk rehabilitasi dan harus melakukan beberapa kali operasi lagi untuk bisa menjalani kehidupan yang normal. (*)

Selanjutnya