zoom-in lihat foto Korea Utara Diduga Kembangkan Senjata Biologis Antraks, Berikut Fakta Mengejutkan Penyakit Mematikan Ini
Ilustrasi | express.co.uk

TRIBUNJUALBELI.COM - Korea Utara tak hanya mengembangkan senjata nuklir yang konon bisa menjangkau daratan Amerika Serikat saja.

Petunjuk mengerikan baru-baru ini didapat dari tubuh seorang pembelot Korut.

Dilansir dari laman The Telegraph, antibodi antraks ternyata ditemukan mengalir dalam darah eks prajurit itu.

Keberadaan antibodi ini bisa berarti dua hal, apakah ia pernah menderita antraks atau memang divaksin agar kebal terhadap penyakit tersebut.

Jika hal kedua yang terjadi, maka dunia patut waspada.

Hal ini bisa jadi bukti bahwa Korut sedang mengembangkan senjata biologis dengan penyakit mematikan itu.

Tak seperti nuklir atau bom, senjata kimia dan biologis sulit dilacak hingga ke pelakunya dan rentan penangkalannya.

Antraks sendiri masih menjadi momok mengerikan untuk dunia, termasuk Indonesia karena dianggap cukup mematikan.

Dilansir dari laman Kompas.com, antraks adalah penyakit mematikan yang disebabkan oleh infeksi Bacillus Anthracis.

Bakteri ini bisa menghasilkan spora yang bisa menyebarkan infeksi.


2 dari 4 halaman

Jika tak segera dirawat, antraks bisa membunuh dalam waktu 24 jam.

Sekitar 2.000 orang di dunia terinfeksi setiap tahunnya.

Kebanyakan kasus antraks terjadi pada hewan ternak, misalnya sapi, domba, kuda, atau kambing.

Spora antraks di tanah bisa menginfeksi hewan ternak yang memakan tanaman yang tumbuh di tanah tersebut.

Biasanya, penularan antraks adalah dari ternak ke manusia.

Penularan tersebut melalui tiga cara yakni lewat kulit ketika spora masuk melalui luka, lewat pernapasan akibat menghirup spora antraks, atau melalui pencernaan karena mengonsumsi daging yang terkontaminasi.

Penyakit antraks ini tidak dapat menular antarmanusia, sehingga Anda tidak memerlukan vaksinasi antraks, kecuali ada sumber infeksi yang sama.

Gejala antraks bervariasi tergantung tipe infeksi yang Anda alami.

Pada infeksi antraks lewat kulit akan menimbulkan gejala gatal, bentol di tubuh, serta melepuh di kulit.

Pembesaran kelenjar limfa, sakit kepala, dan demam terkadang juga dialami.


3 dari 4 halaman

Gejala ini timbul sekitar 5-7 hari pasca terinfeksi spora.

Antraks yang menular lewat saluran napas menyebabkan munculnya gejala 1-7 hari setelah terinfeksi.

Pada awalnya, Anda akan mengalami gejala mirip flu, yakni demam ringan dan tenggorokan sakit.

Kesulitan bernapas dan demam tinggi baru timbul sekitar 1-5 hari kemudian.

Tanpa pertolongan segera, Anda bisa mengalami syok dan kematian.

Sementara itu, gejala antraks yang menular lewat saluran cerna baru muncul sekitar seminggu setelah penularan.

Pada awalnya, gejala yang timbul berupa sakit tenggorokan, sulit menelan, serta ada luka di mulut.

Ketika penyakitnya bertambah parah, Anda akan kesulitan bernapas, diare berdarah, atau muntah, serta nyeri pada perut.

Jika dokter mendeteksi antraks dalam tubuh, hasil tes akan dikirim ke laboratorium departemen kesehatan masyarakat untuk konfirmasi.

Pengobatan untuk antraks tergantung pada gejala yang ditampilkan seperti dikutip dari laman Doktersehat.


4 dari 4 halaman

Jika Anda terkena antraks tetapi Anda tidak memiliki gejala, dokter akan mulai pengobatan pencegahan.

Pengobatan pencegahan terdiri dari antibiotik dan vaksin antraks.

Jika Anda telah terkena antraks dan Anda memiliki gejala, dokter akan memberikan antibiotik untuk diminum selama 60 hari.

Antraks dapat diobati dengan antibiotik jika itu diketahui pada fase awal.

Masalahnya adalah bahwa banyak orang tidak mencari pengobatan sampai terlambat untuk mengobati.

Tanpa pengobatan, kemungkinan kematian akibat antraks meningkat.

Risiko kematian akibat antraks kulit adalah 20% jika tidak diobati.

Jika Anda memiliki antraks pencernaan, kemungkinan kematian adalah 25-60% persen.

Risiko kematian akibat antraks pernafasan adalah sekitar 75%.

Tak bisa dibayangkan jika penyakit antraks ini benar-benar digunakan Korut menjadi salah satu senjata biologis. (*)

Selanjutnya