zoom-in lihat foto Si Kecil Kerap Pegang Alat Vital Miliknya? Ini Alasan Tak Terduga yang Wajib Diketahui Orang Tua
ilustrasi | theasianparent

TRIBUNJUALBELI.COM - Selama ini, banyak orangtua yang masih enggan menjelaskan soal pendidikan seksualitas pada sang buah hati.

Padahal, pendidikan seksualitas ternyata bukan hal tabu yang harus dihindari oleh setiap orangtua.

Sebaliknya, tanamkan pengetahuan tentang seks secara dini agar anak-anak bisa memahaminya dengan pola pikir yang sehat.

Dalam mengajarkan edukasi ini, sebaiknya orangtua bersikap terbuka kepada anak agar perkembangannya pun normal.

Namun, bagaimana jika batita sering sekali memegang alat kelaminnya?

Hal ini biasanya dialami oleh anak laki-laki yang sering memegang atau bahkan memainkan penisnya.

Anak cenderung memasukkan tangannya ke dalam celana sepanjang waktu.

Tentu saja, hal ini pasti membuat orangtua, terutama Ibu menjadi tidak nyaman.

Apalagi saat berada di keramaian, tempat umum, atau situasi dan kondisi lainnya.

Dengan cara yang tidak menghakimi, tidak menuduh, sebaiknya cari tahu penyebab anak suka memegang penisnya agar nantinya Ibu tahu cara mengatasinya.


2 dari 4 halaman

Berikut alasan mengapa anak laki-laki sering memegangi penis sepanjang waktu:

1. "Tanganku dingin."

Alasan yang pertama ialah anak mengaku bahwa tangannya sering merasa kedinginan.

Sehingga anak senang menghangatkan tangan sambil memegang penisnya yang “katanya” memiliki suhu panas yang sesuai.

Sebenarnya tindakan yang ia lakukan sulit diterima logika.

Karena hal ini, mungkin Ibu perlu banyak berkomunikasi dengannya agar anak bisa memahami sedikit demi sedikit bahwa tindakannya ini sebaiknya tidak dilakukan lagi.

2. "Tidak ada orang lain yang akan bermain dengan saya."

Daya imajinasi anak di usia batita memang sedang aktif-aktifnya dilakukan.

Bila anak menganggap penisnya sebagai teman bermain karena tidak ada yang mau menemaninya bermain di kamar, maka Ibu harus selalu hadir untuknya.

3 dari 4 halaman

Ajak ia bermain sehingga kebiasaannya ini perlahan menghilang.

3. "Saya tidak ingin kehilangannya."


Bila anak memiliki pandangan atau pemahaman yang salah tentang alat kelaminnya, maka yang terjadi adalah anak akan sangat “ketergantungan” dengan penisnya.

Sehingga, ada perasaan ketakutan untuk kehilangan.

Nah, untuk itu penting untuk mengajarinya tentang pendidikan seksualitas menggunakan bahasa yang mudah ia cerna dan pahami.

4. "Aku hanya lelah, Bu."

Beberapa anak memiliki selimut khusus yang dipeluknya saat mengantuk.

Beberapa memiliki boneka binatang yang menenangkan mereka saat letih.

Lalu ada pula anak yang terlanjur nyaman memegangi penisnya ketika ia merasa lelah setelah seharian beraktivitas dan kemudian tertidur dengan sendirinya.

4 dari 4 halaman

Dengan kenyamanan yang terbentuk ini, bisa jadi tindakannya ini berubah menjadi kebiasaan.

5. "Karena Ayah yang melakukannya."

Alasan lainnya datang karena anak mencontoh kebiasaan yang dilakukan orangtuanya, yaitu sang Ayah.


Nah, bila Ayah atau pasangan Anda memiliki kebiasaan buruk dan sering dilakukan dihadapan anak, maka ia dengan mudah akan menirukannya, termasuk memegang alat kelamin.

Lalu apa yang harus orangtua lakukan saat mendapati anak memegang atau memain-mainkan alat kelaminnya? Berikut tipsnya

Hindari kalimat intimidatif.

Yang pasti tak perlu memarahi. Hindari juga kata-kata yang bersifat intimidatif.

“Hayoo, Kakak lagi ngapain? Jangan begitu, enggak baik!“

Kata-kata seperti itu hanya akan membuat anak kaget, merasa tertekan dan merasa bersalah.

Alihkan perhatiannya.

Tak perlu panik. Camkan pada diri Anda, anak hanya sekadar ingin tahu.

Coba alihkan perhatikannya dengan melakukan kegiatan lain.

Mengajak ia bermain, misal, dengan begitu fokus perhatiannya tidak melulu pada alat kelaminnya.


Beri penjelasan.

Beri penjelasan sesuai dengan kemampuan anak menyerap informasi.

“Nak, alat kelamin bukan untuk dimainkan. Tanganmu kan kotor, ada kuman, nanti kalau pipis bisa sakit.”

Jangan dibiarkan.

Meski wajar, namun pegang-pegang alat kelamin juga tidak bisa dibiarkan.

Kalau dibiarkan, khawatirnya tindakan itu menjadi cikal-bakal masturbasi di fase berikutnya.

Jadi, cepat alihkan bila anak terlihat senang memegang alat kelamin.

Selanjutnya