TRIBUNJUALBELI.COM - Pada hari Minggu (26/11/2017), terjadi erupsi Gunung Agung di Kabupaten Karangasem, Bali.
Khawatir akan dampak dari meningkatnya aktivitas Gunung Agung, sebagian besar warga Karangasem memilih untuk kembali ke posko pengungsian.
Meletusnya Gunung Agung tidak hanya terjadi kali ini saja, gunung tertinggi di Bali ini terakhir meletus pada tahun 1963 silam.
Bahkan pada tahun 1963, letusan Gunung Agung terjadi selama hampir 1 tahun, yaitu dari pertengahan Februari 1963 sampai dengan 26 Januari 1964.
Gunung Agung menjadi salah satu tempat yang paling disakralkan umat Hindu di Bali.
Bagi masyarakat Bali khususnya Umat Hindu, Gunung Agung merupakan gunung keramat yang merupakan kerajaan para dewa.
Gunung Agung juga menyimpan mitos yang perlu diketahui oleh para wisatawan, khususnya para pendaki.
Ada beberapa mitos atau aturan khusus yang harus ditaati pendaki selain aturan umum tentang pendakian.
Jika mitos ini dilanggar, masyarakat Bali percaya si pelanggar akan mendapat balasan.
Dilansir dari berbagai sumber, berikut ini beberapa mitos Gunung Agung:
1. Tidak bisa kapan saja mendaki
Di lereng Gunung Agung, terdapat sebuah pura besar, Besakih.
Pura ini posisinya paling tinggi di antara pura-pura lainnya,
Saat ada ibadah di Pura Besakih, tidak ada yang boleh mendaki Gunung Agung.
Ini karena ada kepercayaan tidak boleh ada orang yang posisinya lebih tinggi dari Pura Besakih.
Alhasil, para pendaki harus datang ke Pura Besakih untuk mendapatkan informasi kapan ibadah dijalankan.
2. Mendaki harus ditemani 'orang suci'
Menurut warga Bali, setiap pendakian ke Gunung Agung harus ditemani oleh 'orang suci'.
Wanita yang sedang datang bulan pun dilarang berkunjung ke gunung keramat itu.
Untuk aturan wanita yang sedang menstruasi dilarang mendaki gunung memang lumrah.
Sebagian besar aturan pendakian gunung di Indonesia menerapkan hal itu.
Namun, ketentuan harus ditemani 'orang suci', hanya ada di Gunung Agung.
Bagi warga Bali, gunung adalah tempat suci yang merupakan simbol purusa, lelaki, bapak.
Sedangkan laut adalah pradhana, perempuan, ibu.
Mereka mempercayai, gunung meletus bukan sebagai bencana alam, namun semacam rahmat.
3. Dilarang mengambil air di mata air.
Para pendaki harus membawa air sendiri.
Ada sejumlah mata air di sepanjang jalur pendakian dari Pura Besakih menuju puncak Gunung Agung, namun airnya tidak boleh diambil sembarangan.
Masyarakat mengkeramatkan sejumlah mata air itu.
Air dari mata air itu biasa digunakan untuk upacara peribadatan.
Jika ingin menikmati air di mata air itu, maka harus dilakukan ritual khusus. Hanya warga setempat yang bisa melakukan ritual itu.
4. Tidak boleh membawa bekal berbahan daging sapi
Bagi umat Hindu, sapi adalah hewan yang dianggap suci.
Hewan ini dianggap sebagai kendaraan dewa.
Setiap barang bawaan pendaki akan dicek di kantor polisi sebelum memasuki jalur pendakian.
Selain itu, makanan yang mereka bawa haruslah dalam jumlah yang genap.
5. Mengucap izin
Para pendaki juga diminta mengucap izin, saat melewati beberapa tempat.
Hal ini perlu dilakukan untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.
Selain itu, masih ada aturan tak tertulis saat mendaki Gunung Agung Bali.
Kita dilarang memakai baju berwarna merah atau hijau.
6. Jhoni si Anjing Penjaga Gunung Agung
Kisah anjing penjaga ini pernah ditulis oleh salah seorang pendaki, Ni Made Taman (38), dalam akun Facebooknya.
Taman yang mendaki bersama rombongannya pada Agustus 2016, mengaku ditemani anjing yang disebutnya sebagai penunggu Gunung Agung bernama Jhoni.
Jhoni bahkan memandu pendakiannya dari bawah hingga ke puncak dan turun kembali di Pura Besakih.
Saat hampir tersesat, Taman mengaku diselamatkan oleh anjing berbulu hitam-putih ini.
Taman yang sudah beberapa kali mendaki Gunung Agung, mengaku baru kali itu mendaki ditemani Jhoni. (*)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!