zoom-in lihat foto Sering Gonta-ganti BBM Bisa Bikin Mesin Rusak, Ini Penjelasannya
Jangan asal pilih BBM! Oktan terlalu tinggi atau rendah bisa berdampak buruk pada mesin dan menurunkan performa kendaraan.

TRIBUNJUALBELI.COM - Sempat ramai kabar soal kenaikan harga BBM yang membuat sebagian pengguna kendaraan buru-buru beralih ke jenis bahan bakar lain.

Namun, setelah isu tersebut mereda dan harga tak jadi naik, tak sedikit yang sudah telanjur mengganti jenis bensin yang digunakan.

Jenis bensin yang digunakan idealnya menyesuaikan dengan rasio kompresi mesin, sehingga tidak terlalu tinggi maupun terlalu rendah nilai oktannya.

Umumnya, produsen kendaraan sudah memberikan rekomendasi jenis bahan bakar yang paling sesuai.

Rekomendasi ini tentu bukan tanpa alasan, melainkan telah melalui berbagai perhitungan teknis yang disesuaikan dengan spesifikasi mesin.

Pada kendaraan keluaran terbaru, rasio kompresi mesin cenderung lebih tinggi.

Karena itu, jenis BBM yang disarankan biasanya memiliki nilai Research Octane Number (RON) yang lebih tinggi agar pembakaran berjalan optimal.

Meski demikian, dalam praktiknya masih banyak pemilik kendaraan yang kerap berganti-ganti jenis bahan bakar sesuai preferensi atau kondisi tertentu.

Dilansir dari Kompas.com, Dealer Technical Support Dept Head PT Toyota Astra Motor (TAM), Didi Ahadi, menegaskan bahwa penggunaan BBM terbaik adalah yang sesuai standar pabrikan.

Menurutnya, pemakaian bahan bakar yang tepat akan membuat proses pembakaran di dalam mesin berlangsung lebih sempurna, sehingga performa kendaraan tetap optimal.

2 dari 3 halaman

Selain itu, komponen mesin juga akan lebih awet karena bekerja sesuai dengan spesifikasinya.

Ia juga mengingatkan bahwa kebiasaan mengganti jenis BBM, terutama menggunakan oktan lebih rendah, dapat menimbulkan penumpukan kerak karbon di ruang bakar.

Dampaknya, mesin bisa mengalami gejala “ngelitik” atau knocking.

Tak hanya itu, penggunaan BBM dengan oktan yang lebih rendah dari rekomendasi juga berpotensi menurunkan performa mesin secara keseluruhan.

Sebaliknya, penggunaan bahan bakar dengan nilai oktan terlalu tinggi juga bukan tanpa risiko.

Didi menjelaskan, kondisi tersebut bisa membuat suhu mesin meningkat dan berdampak pada beberapa komponen kendaraan.

Misalnya, bagian knalpot bisa lebih cepat mengalami kerusakan akibat panas berlebih.

Selain itu, komponen seperti seal dan bearing juga berpotensi lebih cepat aus, serta dapat memengaruhi emisi gas buang kendaraan.

Hal serupa disampaikan oleh Kepala Bengkel Auto2000 Cilandak, Suparna.

Ia menegaskan bahwa penggunaan BBM yang tidak sesuai dengan rekomendasi pabrikan, baik terlalu rendah maupun terlalu tinggi, sama-sama bisa berdampak buruk.

3 dari 3 halaman

Menurutnya, penggunaan bensin dengan RON yang terlalu tinggi justru bisa membuat proses pembakaran di dalam mesin menjadi tidak sempurna.

Karena itu, pemilik kendaraan disarankan untuk tetap menggunakan jenis bahan bakar sesuai anjuran pabrikan agar performa mesin tetap terjaga dan risiko kerusakan bisa diminimalkan. (*)

Selanjutnya