BLOG.TRIBUNJUALBELI.COM – Bisnis properti selama ini dikenal sebagai salah satu bentuk investasi yang menjanjikan.
Banyak orang tertarik karena nilai properti yang cenderung meningkat dari tahun ke tahun, ditambah peluang mendapatkan penghasilan rutin dari sistem sewa.
Tak heran jika properti sering dianggap sebagai aset aman untuk jangka panjang.
Meski demikian, anggapan bahwa bisnis properti selalu untung tidak sepenuhnya benar.
Di balik potensi keuntungan yang besar, terdapat berbagai risiko yang perlu dipahami sejak awal.
Tanpa perencanaan yang matang, risiko-risiko ini justru bisa menimbulkan kerugian finansial dan masalah hukum di kemudian hari.
Berikut lima risiko bisnis properti yang sering terjadi dan wajib diantisipasi oleh calon investor:
Baca Juga : Nilai Terus Naik, Ini 5 Keuntungan Bisnis Properti yang Bikin Tertarik
1. Risiko Perubahan Kondisi Pasar Properti
Pasar properti sangat dipengaruhi oleh kondisi ekonomi secara umum.
Faktor seperti kenaikan suku bunga KPR, inflasi, perlambatan ekonomi, hingga perubahan kebijakan pemerintah dapat berdampak langsung pada daya beli masyarakat.
Ketika pasar sedang lesu, properti bisa sulit dijual maupun disewakan.
Harga yang diharapkan naik justru stagnan atau bahkan turun.
Kondisi ini berisiko menghambat arus kas, terutama bagi investor yang mengandalkan keuntungan dalam jangka pendek.
2. Kebutuhan Modal Awal yang Besar
Tidak seperti bisnis lain yang bisa dimulai dengan modal relatif kecil, bisnis properti membutuhkan dana awal yang cukup besar.
Selain harga beli properti, investor juga harus menyiapkan biaya tambahan seperti pajak, biaya notaris, balik nama sertifikat, hingga biaya renovasi.
Jika pembelian dilakukan dengan skema kredit, beban cicilan bulanan menjadi risiko tersendiri.
Apabila properti belum menghasilkan pendapatan, investor harus tetap menanggung kewajiban cicilan, yang berpotensi mengganggu kondisi keuangan.
3. Risiko Masalah Legalitas dan Perizinan
Baca Juga : Masih Jadi Primadona, Ini 5 Fakta Mengapa Bisnis Properti Tetap Menjanjikan
Legalitas menjadi aspek krusial dalam bisnis properti. Kesalahan dalam pengecekan dokumen dapat berujung pada sengketa hukum yang merugikan.
Beberapa masalah yang sering terjadi antara lain sertifikat bermasalah, status tanah sengketa, hingga bangunan yang tidak memiliki izin mendirikan bangunan (IMB) atau persetujuan bangunan gedung (PBG).
Risiko ini tidak hanya menimbulkan kerugian finansial, tetapi juga dapat menghambat proses jual beli atau penyewaan properti di masa depan.
4. Biaya Perawatan dan Operasional yang Berkelanjutan
Properti bukanlah aset yang bisa dibiarkan tanpa perawatan.
Bangunan membutuhkan pemeliharaan rutin agar tetap layak huni dan nilainya tidak menurun.
Biaya perawatan meliputi perbaikan bangunan, pengecatan, perawatan instalasi listrik dan air, hingga biaya keamanan dan kebersihan.
Selain itu, pajak properti dan biaya asuransi juga menjadi pengeluaran rutin.
Jika tidak diperhitungkan sejak awal, biaya-biaya ini bisa mengurangi keuntungan secara signifikan.
5. Risiko Properti Sulit Dijual atau Disewakan
Salah satu risiko terbesar dalam bisnis properti adalah ketika aset yang dimiliki sulit mendapatkan pembeli atau penyewa.
Faktor lokasi, aksesibilitas, kondisi lingkungan, hingga desain bangunan sangat memengaruhi minat pasar.
Persaingan yang ketat di kawasan tertentu juga dapat memperpanjang waktu properti kosong.
Semakin lama properti tidak menghasilkan pendapatan, semakin besar pula risiko kerugian yang harus ditanggung pemilik.
(Eno/TribunJualBeli.com)











Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!