zoom-in lihat foto Rekomendasi Hunian Murah Buat Gen Z dan Rencana Pembiayaannya dari Pakar Properti
Solusi hunian murah untuk gen Z | foto Unsplash/Abdul Ridwan via Kompas.com

BLOG.TRIBUNJUALBELI.COM - In this economy, memiliki rumah pribadi bukanlah hal yang mudah.

Apalagi untuk generasi Z yang tergolong dalam kelompok Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR).

Dimana, harga rumah dari tahun ke tahun memang terus meningkat sementara pendapatan relatif terbatas.

Kini generasi Z semakin ditampar kenyataan dengan adanya wacana pemerintah untuk merombak ukuran rumah subsidi menjadi 18 meter persegi.

Wacana tersebut dinilai tidak sesuai dengan karakter generasi Z yang sangat mementingkan kenyamanan dan gaya hidup.

Para generasi Z membutuhkan solusi hunian yang tidak hanya terjangkau, tapi juga layak.

Menurut para pakar dan praktisi properti, ada beberapa alternatif bagi generasi Z untuk mewujudkan kepemilikan rumah, sebagaimana dirangkum dari Kompas.com.

1. Apartemen Subsidi: Hunian Vertikal di Tengah Kota

Gen Z cenderung kerja dan hidup di kota besar. Jadi, apartemen subsidi bisa jadi alternatif dibanding rumah tapak yang biasanya jauh di pinggiran.

Kelebihannya:

2 dari 4 halaman

- Dekat kantor, transportasi umum, dan tempat hangout.

- Hemat lahan, jadi harganya bisa ditekan.

- Bisa punya fasilitas bareng seperti coworking space atau gym.

Contoh: Rusunami tipe studio (20–25 m²) yang desainnya cerdas, misalnya pakai mezzanine supaya ruangnya maksimal.

Tantangan: Harga tanah di kota cukup mahal. Jadi, pemerintah perlu bantu lewat subsidi lahan atau pengurangan pajak buat pengembang.

2. Rumah Modular: Kecil Tapi Multifungsi

Rumah subsidi bisa tetap nyaman walau kecil, asal desainnya modular dan fungsional.

Misalnya, pakai furnitur lipat, dinding geser, atau ruang serbaguna.

Kelebihannya:

- Hemat tempat, tetap estetik, dan cocok buat selera Gen Z yang suka desain modern.

3 dari 4 halaman

- Biaya perawatan lebih rendah.

Contoh: Konsep mirip apartemen kecil di Jepang atau Singapura.

Tantangan: Desain modular itu mahal, jadi perlu kolaborasi antara pemerintah dan pengembang biar tetap terjangkau.

3. Rumah Tapak di Kawasan Pinggiran yang Terintegrasi

Rumah tapak di kawasan pinggiran kota dengan infrastruktur memadahi masih bisa menjadi pilihan bagi gen Z.

Kelebihannya:

- Harga lebih murah.

- Potensi nilai investasi naik ke depannya.

- Banyak tersedia yang deket stasiun KRL atau LRT untuk kemudahan mobilitas.

Contoh: Kawasan seperti mini BSD atau Sentul, tapi versi subsidi. Bisa juga dibikin model TOD (Transit Oriented Development) biar makin terhubung.

4 dari 4 halaman

Tantangan: Perlu biaya gede buat bangun jalan, transportasi, dan fasilitas umum lainnya.

4. Co-Housing: Tinggal Bareng, Biaya Lebih Ringan

Gen Z dikenal suka kerja bareng dan bangun komunitas.

Nah, konsep co-housing bisa jadi pilihan: tinggal bareng di kompleks yang punya dapur, taman, atau ruang kerja bersama.

Kelebihannya:

- Lebih hemat karena fasilitas dibagi.

- Bikin suasana komunitas yang seru.

- Cocok buat yang masih lajang atau pasangan muda.

Tantangan: Masih baru di Indonesia, jadi perlu edukasi soal gaya hidup ini.

Cara Pembiayaan Rumah yang Cocok buat Gen Z

Dengan rata-rata gaji Gen Z yang masih di bawah Rp 5 juta per bulan, perlu cara bayar yang realistis.

Ini beberapa skema yang bisa dipertimbangkan:

1. KPR Bersubsidi (FLPP)

Kamu bisa ambil Kredit Pemilikan Rumah (KPR) subsidi dengan bunga cuma 5% dan uang muka ringan.

Simulasinya:

Harga rumah subsidi: Rp 150–185 juta.

Cicilan: Rp 800 ribu – Rp 1,2 juta per bulan.

Kalau tenor diperpanjang sampai 35–40 tahun, cicilan bisa ditekan jadi Rp 500–700 ribu.

2. Tapera (Tabungan Perumahan Rakyat)

Setiap pekerja wajib nabung 3% dari gaji buat dana rumah.

Keuntungan:

- Bisa dipakai buat DP atau cicilan rumah.

- Pemerintah bisa bantu lewat insentif seperti matching fund (nambahin jumlah tabungan kamu).

- Gen Z perlu mulai sejak dini biar dananya cukup pas butuh.

3. Skema Rent-to-Own

Sewa dulu, beli nanti. Sebagian uang sewa kamu nanti dihitung sebagai cicilan beli rumah.

Contoh:

- Sewa Rp 1–1,5 juta/bulan.

- 50–70% dari sewa dihitung sebagai cicilan.

- Cocok untuk kamu yang belum punya cukup uang buat DP tapi pengen mulai punya aset.

4. Crowdfunding Properti

Kalau beli rumah bareng-bareng? Bisa juga!

Konsepnya:

- Patungan bareng Gen Z lainnya lewat platform digital.

- Mulai dari investasi kecil (misalnya Rp 1 juta), nanti bisa dapet kepemilikan bersama atau sistem bagi hasil.

Tantangan: Harus ada aturan jelas biar gak jadi lahan penipuan.

Nah itulah beberapa solusi dari para pakar untuk Gen Z dalam mewujudkan kepemilikan rumah.

(Lilyana/Tribunjualbeli.com)

Selanjutnya