BLOG.TRIBUNJUALBELI.COM - Setiap pengendara di kota besar pasti pernah bertemu sosok ini: bertopi lusuh, berdiri di tengah perempatan, sambil mengangkat tangan bak polisi lalu lintas.
Itulah yang dikenal sebagai Pak Ogah, sebutan untuk pengatur lalu lintas tak resmi yang keberadaannya tak pernah benar-benar hilang dari jalanan Indonesia.
Meski sering dipandang sebelah mata, tak sedikit pula yang merasa terbantu.
Baca juga : 4 Langkah Parkir Mobil untuk Pemula yang Aman dan Benar, Tidak Membahayakan
Lalu, kenapa sih sebenarnya Pak Ogah bisa berada di titik dilema antara dibenci dan diperlukan?
Yuk, kita kupas lebih dalam lagi.
Mereka Bukan Polisi, Tapi Dianggap Membantu
Banyak Pak Ogah ditemukan di simpang jalan kecil atau akses keluar komplek yang tidak dijaga petugas resmi.
Di titik-titik rawan itu, mereka membantu kendaraan keluar masuk, membuka jalan di tengah padatnya arus lalu lintas, hingga menjadi “penengah” di simpang tak berlampu.
Meski kehadirannya tak legal, sebagian pengendara merasa tertolong, terutama saat situasi macet atau lalu lintas tak terkendali.
Jasa Seikhlasnya yang Berujung Kewajiban
Meski disebut “seikhlasnya”, realitanya banyak pengendara merasa tertekan untuk memberi uang, apalagi jika Pak Ogah menunjukkan raut kesal atau menggedor kendaraan saat tak diberi imbalan.
Di sinilah muncul konotasi negatif, ketika bantuan berubah menjadi pemaksaan.
Ini yang membuat banyak orang merasa risih, kesal, bahkan takut saat melintasi area yang “dikuasai” Pak Ogah.
Gejala dari Sistem yang Belum Sempurna
Keberadaan Pak Ogah tak bisa dilepaskan dari ketimpangan sistem transportasi dan pengangguran.
Banyak dari mereka adalah warga yang kesulitan mendapat pekerjaan tetap.
Di sisi lain, kurangnya petugas resmi di titik-titik rawan kemacetan membuat ruang kosong yang akhirnya diisi oleh Pak Ogah.
Ini menunjukkan bahwa fenomena mereka adalah gejala sosial, bukan semata perilaku individual.
Antara Solusi Praktis dan Masalah Baru
Di satu sisi, Pak Ogah hadir sebagai solusi praktis bagi lalu lintas liar.
Di sisi lain, mereka menimbulkan potensi konflik, ketidakteraturan, dan bahkan mengganggu keselamatan.
Beberapa kasus juga melibatkan oknum yang berlaku kasar atau meminta uang secara paksa.
Pemerintah pun berada dalam dilema: membasmi atau membina?
Perlukah Regulasi atau Justru Solusi Alternatif?
Daripada memusnahkan total, beberapa daerah mulai mencari pendekatan lain: membina Pak Ogah menjadi petugas parkir resmi atau relawan lalu lintas berpelatihan.
Solusi semacam ini tentu lebih manusiawi dan efektif, daripada sekadar menertibkan tanpa memberi solusi pengganti.
Fenomena yang Butuh Pemahaman, Bukan Cacian
Pak Ogah adalah cermin dari dua sisi mata uang: ketidakteraturan sistem dan kegigihan bertahan hidup.
Mereka mungkin mengganggu, tapi juga menunjukkan bahwa masyarakat kita masih punya celah besar dalam pengaturan lalu lintas dan kesejahteraan sosial.
Baca juga : 3 Komponen Ini Rawan Rusak Jika Mobil Sering Parkir di Luar Rumah
Jadi, sebelum mencibir atau memaki, mungkin kita bisa bertanya: apa yang bisa dilakukan agar jalanan tetap tertib, tanpa harus mengorbankan mereka yang mencari nafkah di pinggirnya?
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News (*)
(Ridwan Mufid/TRIBUNJUALBELI.COM)




Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!