zoom-in lihat foto Kusta Bisa Sembuh Total Kok, Obatnya Pun Gratis
Ilustrasi informasi terkait kusta | Kompas

TRIBUNJUALBELI.COM - Banyak orang yang belum tahu jika kusta bisa sembuh total tanpa meninggalkan cacat.

Bahkan, obatnya pun gratis, obat kusta disediakan gratis oleh pemerintah Indonesia dari Badan Kesehatan Dunia (WHO).

Menurut Ketua Kelompok Studi Morbus Hansen (Kusta), Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia (Perdoski), Dr. dr. Sri Linuwih Susetyo Wardhani Menaldi, SpKK(K), kusta bisa sembuh tanpa meninggalkan kecacatan sama sekali asal ditemukan sejak dini dan segera diobati, beliau menyatakan hal tersebut saat ditemui di ruang kerjanya di RSCM pada Selasa (3/9/2019).

Pengobatan kusta menggunakan kombinasi antibiotik atau disebut dengan multi drug treatment, seperti Rifampicin, Dapsone, dan Clofazimine.

Pengobatan ini tentu saja harus tuntas dan sesuai dengan resep dokter untuk menghindari bakteri kusta menjadi kebal atau resisten, sehingga dapat memutus rantai penularan.

Kabar baiknya, obat-obatan untuk kusta disediakan gratis oleh pemerintah dari bantuan World Health Organization (WHO).

Obat-obatan ini tersedia di beberapa puskesmas dan rumah sakit pemerintah dan swasta, sehingga pasien tidak perlu membelinya.

Akan tetapi, obat gratis dari WHO tersedia setara dengan jumlah kasus kusta yang dilaporkan oleh pemerintah Indonesia kepada WHO itu sendiri, sehingga membutuhkan pemeriksaan dari dokter terlebih dahulu.

Pada kusta tipe Pausi basiler (PB) atau level tuberkoloid, pengobatan umumnya berlangsung selama enam bulan.


2 dari 3 halaman

Pada kusta tipe Multi basiler (MB) atau lepromatosa, pengobatan pada umumnya dilakukan selama 12 bulan atau lebih.

Tata laksana pengobatan kusta, diungkapkan dr. Dini, tidak terbatas pada kulit saja, tetapi harus bersama dengan disiplin ilmu lain, termasuk saraf, mata, bedah ortopedi, dan rehabilitasi medik.

Bahkan, tata laksana juga dapat melibatkan psikolog, ilmu budaya, kesehatan masyarakat, ekonomi dan lain-lain.

"Kalau kusta sudah tipe MB, biasanya terjadi juga komplikasi ke bagian organ lain. Jadinya, pengobatannya itu harus dilakukan berkolaborasi atau berkoordinasi antar disiplin ilmu kedokteran yang terkait," ujar dr. Dini.

Misalnya, jika seorang penderita kusta mengalami gangguan saraf karena penyakitnya, maka dokter kulit akan bekerjasama dengan dokter saraf dalam melangsungkan penyembuhan.

Sementara itu, jika yang terkena dampak kusta adalah organ mata, maka kerja sama dilakukan antara dokter mata dan kulit khusus kusta.

Dokter Dini berkata bahwa hal yang paling ditakutkan dari penyakit kusta adalah kemungkinan terjadinya kecacatan permanen.

Dengan berobat teratur, cacat dapat dicegah. Akan tetapi, bila saat berobat awal sudah terjadi cacat, maka cacat akan tetap ada walaupun sudah sembuh.

Bakteri yang ada pada penderita juga akan mati saat kusta dinyatakan sembuh, tetapi penderita bisa kembali mengalami gejala kusta jika terinfeksi bakteri baru.

(Kompas/Ellyvon Pranita)

3 dari 3 halaman

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul Tidak Harus Meninggalkan Cacat, Kusta Bisa Sembuh Total asal...

Selanjutnya