TRIBUNJUALBELI.COM - Seorang ibu muda, sebut saja dia Vera, mengeluh tak kunjung datang bulan.
Awalnya Vera tak terlalu ambil pusing mengenai hal ini.
Sebab masih memberikan ASI secara eksklusif kepada bayinya.
Tapi yang membuat Vera stres, manakala kontrol ke dokter dan mengeluhkan hal tersebut, dokter yang memeriksanya mendiagnosa dirinya menderita hiperplasia endometrium alias penebalan dinding rahim, yang tak ada hubungannya sama sekali dengan aktivitas menyusui.
Memang adakalanya ibu yang menyusui tak segera mengalami menstruasi karena pengaruh keseimbangan hormon.
Namun, adakalanya absen haid setelah masa menyusui disebabkan hal lain yang tidak normal.
Antara lain karena hiperplasia endometrium alias penebalan dinding rahim.
Kondisi ini, jelas dr. Boyke Dian Nugraha, Sp.OG, MARS, dari Klinik Pasutri, Jakarta, gejalanya; siklus menstruasi tak teratur, tak kunjung haid dalam jangka waktu lama, atau menstruasi terus-menerus dan banyak.
Selain itu sering mengalami vlek bahkan muncul gangguan sakit kepala, mudah lelah dan sebagainya.
Dampak berikutnya, penderita hiperplasia endometrium bisa mengalami kesulitan hamil dan menderita anemia.
Hubungan suami-istri pun terganggu karena perdarahan yang tak kunjung henti.
Penebalan berlebihan pada lapisan dinding dalam rahim bisa diakibatkan peningkatan kadar hormon estrogen.
Umumnya estrogen yang meninggi dipicu oleh tumbuhnya kista.
Pada kasus lain, penebalan dinding rahim juga terjadi karena faktor ketidakseimbangan hormonal dimana peningkatan hormon estrogen tak diimbangi oleh peningkatan progesteron.
Kondisi ini juga biasanya dialami oleh wanita yang tergolong berbadan gemuk karena produksi estrogennya berlebihan.
Jadi, hiperplasia endometrium sebenarnya bisa dialami siapa pun, baik yang sudah memiliki anak maupun belum.
HARUS DIKURET
Terjadinya penebalan dinding rahim bisa diketahui dengan pemeriksaan ultrasonografi (USG).
Namun untuk memastikannya perlu dilakukan kuratase.
Hasil kuretan dinding rahim akan dikirim ke bagian patologi anatomi untuk didiagnosa lebih lanjut.
Sebenarnya berdasarkan kajian medis, gangguan penebalan dinding rahim ini dibedakan menjadi 3 kategori berikut:
* Simplek
Penderita dengan kondisi ini tak perlu merasa khawatir berlebihan karena hiperplasia simplek tergolong ringan dan takkan berakhir dengan keganasan.
Sehingga penderita tetap masih bisa hamil.
* Kistik
Seperti halnya simplek, kasus ini tak berbahaya.
* Atipik
Nah, kondisi yang satu ini mesti diwaspadai. Atipik biasanya merupakan cikal bakal terjadinya kanker.
TERAPI HORMON
Terapi atau pengobatan bagi penderita hiperplasia yang bisa ditempuh adalah:
1. Tindakan kuratase selain untuk menegakkan diagnosa sekaligus sebagai terapi untuk menghentikan perdarahan.
2. Selanjutnya adalah terapi progesteron untuk menyeimbangkan kadar hormon di dalam tubuh.
Perlu diketahui, kemungkinan efek samping yang bisa terjadi, di antaranya mual, muntah, pusing, dan sebagainya.
Rata-rata dengan pengobatan hormonal sekitar 3-4 bulan, gangguan penebalan dinding rahim sudah bisa diatasi.
3. Jika pengobatan hormonal yang dijalani tak juga menghasilkan perbaikan, biasanya akan diganti dengan obat-obatan lain.
Tanda-tanda sembuh di antaranya siklus haid kembali normal dan sebagainya.
Jika sudah dinyatakan sembuh, ibu sudah bisa mempersiapkan diri untuk kembali menjalani kehamilan.
Namun alangkah baiknya, jika terlebih dahulu memeriksakan diri pada dokter.
Terutama pemeriksaan bagaimana fungsi endometrium, apakah salurannya baik, apakah memiliki sel telur dan sebagainya.
4. Khusus bagi penderita hiperplasia kategori atipik, jika memang terdeteksi ada kanker, maka jalan satu-satunya adalah menjalani operasi pengangkatan rahim.
Untuk mencegah terjadinya gangguan penebalan dinding rahim, sebaiknya ibu melakukan langkah-langkah yang disarankan berikut:
* Lakukan pemeriksaan USG dan sebagainya untuk mengetahui apakah ada kista yang menyebabkan terjadinya penebalan dinding rahim.
* Lakukan konsultasi ke dokter jika mengalami gangguan seputar menstruasi apakah itu haid yang tak teratur, jumlah mestruasi yang banyak ataupun tak kunjung haid dalam jangka waktu lama. (Nakita/Gazali Solahuddin)
Artikel ini sudah tayang di laman Nakita dengan judul Berita Kesehatan Wanita: Waspada Penebalan Dinding Rahim, Gejalanya Menstruasi Tak Teratur

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!