TRIBUNJUALBELI.COM - Tokyo memang terkenal dengan kota dengan biaya hidup tertinggi di dunia.
Termasuk dengan harga tanah dan biaya sewa apartemen yang memiliki biaya sangat mahal.
Bahkan jika kamu tidak memiliki banyak uang, jangan harap bisa membeli sebidang tanah di kota ini.
Namun berbeda bagi pasangan Tomoya dan Naomi Sato, mereka akhirnya membeli sebidang kecil tanah yang berada di lingkungan padat perumahan di pusat kota Tokyo.
Tanah itu letaknya hanya beberapa langkah dari jalan yang dipenuhi toko-toko dan sekolah dasar.
Pasangan ini memiliki lahan seluas 3,6 meter x 8,2 meter atau sekitar 29,5 meter persegi. Merupakan tanah yang sangat kecil.
Mereka akhirnya meminta bantuan arsitek terkenal, Osamu Nishida, dari ON Design Partners untuk membangun rumah di lahan terbatas ini.
Nishida sebagai arsitek mengusulkan untuk membangun dua struktur sempit dengan celah di antara keduanya.
Celah itu ada digunakan untuk cahaya dan sirkulasi udara dalam rumah.
Rumah ini sendiri terdiri dari 3 lantaidan pada bagian kedua adalah tempat tangga berada.
Untuk berpindah dari satu lantai ke lantai lainnya, penghuni rumah ini harus keluar rumah lalu masuk ke ruang tangga, kemudian keluar dari ruang tangga itu lagi dan masuk ruangan yang dituju.
Celah atau ruang kosong ini tidak diberikan atap karena peraturan bangunan setempat mensyaratkan bahwa 40% bangunan harus terdapat ruang terbuka.
Selain digunakan untuk aliran cahaya dan udara, ruang kosong ini juga bisa sebagai tempat jemuran dan tempat duduk penghuninya untuk memperoleh udara segar..
Dilansir dari Wall Street Journal, Nishida mengatakan, “Tinggal di rumah kecil, Anda harus merelakan banyak hal tak ada karena Anda tak bisa menaruh banyak hal."
"Tapi hal ini membuat Anda sadar dengan apa yang benar-benar penting untuk hidup Anda”
Senada dengan yang dikatakan Nishida, dalam rumah ini memang tidak bisa bebas meletakkan berbagai macam furniture yang diinginkan.
Tetapi harus dipikirkan betul-betul furniture yang fungsional.
Walaupun sempit, namun ruangan dalam rumah ini terasa sangat nyaman dengan pencahayaan alami.
Pada bagian lantai menggunakan ubin keramik dengan motif guratan kayu, mengimbangi dinginnya ruangan yang berdominasi putih.
Agar Aman dari Kebakaran, Seperti Ini Desain Rumah yang Benar
TRIBUNJUALBELI.COM - Saat mempersiapkan hunian yang akan ditinggali, tak sedikit orang yang tidak mempertimbangkan berbagai kemungkinan buruk yang bisa saja dialami, misalnya kebakaran.
Dampaknya, banyak yang tak mempersiapkan desain rumah yang tepat agar nantinya sigap menghadapi kebakaran bila terjadi.
Lantas, desain rumah seperti apa yang sebenarnya kita perlukan untuk menghindari kemungkinan buruk tersebut?
Inilah beberapa poin yang perlu diperhatikan menurut Ir. Bambang Supriyanto, arsitek S.T.U.P.A. Design n Build.
1. Pintu
Kesalahan:
Rumah hanya memiliki 1 akses.
Idealnya:
Rumah yang baik setidaknya harus memiliki minimal 2 akses.
“Posisi idealnya harus berseberangan antara 1 pintu dengan pintu yang lainnya.
Ini untuk memberikan alternatif penghuni rumah menyelamatkan diri.
Jika kebakaran terjadi di area depan, maka pemilik rumah dapat menyelamatkan ke area belakang, begitu sebaliknya,” terang Bambang.
“Jikalau tidak memungkinkan harus ada di sisi kiri dan kanan rumah.”
2. Kunci/Gembok
Kesalahan:
Saat terjadi kebakaran, penghuni rumah biasanya panik.
Dalam kondisi ini, seseorang akan sulit berkonsentrasi untuk memikirkan masalah taruh-menaruh barang seperti meletakkan kunci pintu.
Selain itu, penghuni rumah terlalu banyak menggunakan kunci/gembok.
Idealnya:
Sebaiknya, letakkan di tempat strategis, mudah dijangkau, dan diketahui semua penghuni rumah.
Ada baiknya menggunakan sistem kunci yang dari luar pintu harus dibuka dengan kunci tetapi dari dalam pintu dapat dibuka tanpa harus memasukkan kunci.
Keamanan maksimal, keselamatan kita dan keluarga pun semakin terlindungi.
3. Pagar
Kesalahan:
Pagar bisa menjadi masalah seseorang dalam menyelamatkan diri saat kebakaran.
Sudah pagar tinggi, gemboknya lebih dari 2 buah.
Ini jelas akan menyulitkan penghuni rumah sesegera mungkin menyelamatkan diri.
Idealnya:
“Tinggi pagar maksimal adalah 1,8 m dan gembok cukup 1 buah,” terang Bambang.
Tinggi ini cukup bagi orang dewasa untuk memanjat tembok pagar, berteriak meminta pertolongan, atau menyelamatkan penghuni rumah lain yang lebih kecil.
4. Minimalisasir Terali Besi
Kesalahan:
Semua pintu dan jendela menggunakan terali besi yang sangat rapat, baik itu di lantai 1, lantai 2, dan lantai di atasnya.
Pertanyaan pun muncul, ini penjara atau rumah?
Kondisi ini justru akan makin mempersulit seseorang untuk menyelamatkan diri.
Idealnya:
Jika memang harus menggunakan teralis besi, cukup gunakan di jendela lantai 1.
Tak perlu menggunakan teralis di seluruh lantai.
Hindari juga menggunakan teralis besi di pintu.
“Jika tidak ingin menggunakan teralis, kita dapat mendesain jendela yang berukuran lebih kecil.
Desainnya, maksimal lebar 40cm, seukuran badan,” terang Bambang.
5. Tangga
Kesalahan:
Tangga berdekatan dengan dapur.
Idealnya:
Penting diperhatikan, lokasi dapur sebaiknya tidak persis di bawah tangga.
Jika sumber kebakaran berasal dari dapur, orang yang sedang berada di lantai atas akan sulit untuk menyelamatkan diri jika posisi dapur persis di bawah tangga.
“Jarak minimal antara tangga dan dapur adalah 5m. Jadi, semakin jauh semakin baik,” ungkap Bambang.
Semoga bermanfaat!(*)
(Nurul Hardiyanti/iDEA.grid.id)
Artikel ini pernah tayang di idea.grid.id dengan judul Buat Desain Seperti ini, Biar Tak Ada Korban Saat Terjadi Kebakaran di Rumah

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!