TRIBUNJUALBELI.COM - Negara Indonesia memiliki belasan ribu pulau dan beribu suku.
Masing-masing suku memiliki jati diri yang nggak tergantikan alias unik.
Keunikan tersebut bisa dilihat dari berbagai macam hal.
Salah satunya ialah tradisi dalam menyambut hari raya beragama seperti Idul Fitri.
Tiap suku memiliki caranya sendiri dalam mengucap syukur kepada Sang Khalik.
Berikut ini beberapa tradisi unik di Indonesia yang dirangkum dari Grid.ID:
1. Tradisi Pukul Sapu di Maluku Tengah
Tradisi ini berasal dari desa Morela dan desa Mamala, Kabupaten Maluku Tengah.
Tradisi Pukul Sapu dilaksanakan seacar rutin setiap 7 hari pasca lebaran.
Seperti namanya, pada tradisi ini para pemuda saling berhadapan dengan menggunakan lidi dari pohon enau.
Dalam kurun waktu 30 menit, para pemuda yang terlibat akan saling menyerang.
Seusai pertarungan, setiap pemuda mendapatkan pengobatan secara khusus dari desanya.
Pemuda dari desa Morela akan memperoleh getah jarak sebagai obat penyembuh luka.
Sementara pemuda dari desa Mamala menerima obat luka yang terbuat dari minyak kepala yang dicampur dengan pala dan cengkeh.
Tradisi yang telah dilestarikan sejak abad ke-17 ini memang membahayakan para anggotanya.
Namun tradisi Pukul Sapu dianggap mampu menjalin ikatan silahturahmi antara kedua desa dengan baik.
2. Tradisi Perang Topat di Nusa Tenggara Barat
Dalam tradisi Perang Topat, warga Lombok saling berperang dengan melemparkan ketupat.
Perang Topat sendiri diadakan dalam rangka mengucap syukur atas berakhirnya puasa sunah umat muslim di Lombok.
Tradisi yang diikuti umat Islam dan Hindu di Lombok ini dilakukan 6 hari setelah hari raya Idul Fitri.
Sebelum Perang Topat, warga berziarah terlebih dahulu ke makam para ulama.
Biasanya, mereka berziarah ke Makam Loang Baloq di kawasan Pantai Tanjung Karang dan Makam Bintaro di kawasan Pantai Bintaro.
Usai berziarah, prosesi Perang Topat dimulai dengan membawa sesajen berupa hasil bumi yang dilakukan oleh suku Sasak dan tokoh umat Hindu di Lombok.
Kemudian, Perang Topat pun dimulai ketika waktu telah menunjukkan pukul 17.30, tepat di mana matahari mulai terbenam.
Nggak hanya mencerminkan toleransi beragama yang kuat, tradisi Perang Topat sendiri juga mampu mengajak manusia untuk kembali merefleksikan jati dirinya.
3. Tradisi Meriam Karbit di Pontianak
Masyarakat yang mendiami tepian Sungai Kapuas menyambut malam takbiran dengan cara yang nggak biasa.
Mereka mengungkapkan syukur dengan membunyikan Meriam Karbit yang berukuran 6 meter.
Seiring berjalannya waktu, tradisi tersebut telah menjadi ajang perlombaan.
Setiap kelompok warga yang punya meriam saling membunyikan meriam yang bisa terdengar hingga radius lebih dari 3 KM, untuk selanjutnya dinilai oleh juri.
Sejarah Tradisi Meriam Karbit juga nggak kalah menarik.
Berdasarkan kisah Kesultanan Kadriah Pontianak (1771-1808), raja pertama Pontianak, Syarif Abdurrahman Alkadrie sempat diganggu oleh hantu ketika membuka lahan tempat tinggal.
Gangguan hantu tersebut akhirnya diatasi dengan bunyi Meriam Karbit menjelang adzan maghrib.
4. Tradisi Grebeg Syawal di Yogyakarta
Upacara ritual yang rutin diadakan pada tangga 1 Syawal ini ditandai dengan keluarnya Gunungan Lanang yang terdiri atas kumpulan hasil bumi.
Gunungan Lanang tersebut lantas dibawa ke Masjid Gede Keraton Ngayogyakarta untuk didoakan.
Gunungan sendiri merupakan simbol perwujudkan sedekah dari Sultan kepada rakyatnya.
Pada puncak ritual, warga sekitar memperebutkan isi dari Gunungan Lanang dengan harapan mendapat berkah dari Yang Maha Kuasa.
5. Tradisi Ngejot di Bali
Saat Idul Fitri tiba, umat muslim di Bali merayakannya dengan memberikan hidangan kepada tetangga.
Hidangan tersebut dibagikan tanpa memandang latar belakang agama yang ada.
Tradisi Ngejot sendiri sudah berlangsung sejak lama dan dapat dijumpai di desa-desa ataupun di daerah perkotaan di Bali.
Sebagai wujud akulturasi antara budaya Islam dengan budaya Bali ini secara nggak langsung menciptakan nada keharmonisan.
6. Tradisi Bakar Gunung Api di Bengkulu
Idul fitri di Bengkulu dirayakan juga tidak biasa serta unik.
Tradisi yang bernama bakar Gunung Api tersebut diikuti oleh suku Serawai.
Pada saat malam takbiran, suku Serawai dan masyarakat sekitar akan membakar susunan batok kelapa yang menyerupai tusuk sate.
Pembakaran batok kepala tersebut merupakan simbolis atas ungkapan syukur kepada Sang Khalik.
Dan juga, sebagai doa bagi para arwah keluarga agar tentram di dunia akhirat.
7. Tradisi Tumbilotehe di Gorontalo
Meriah dan bercahaya mewarnai kota Gorontalo saat menjelang Idul Fitri.
Dimulai sejak 3 hari sebelum Idul Fitri, kota Gorontalo dipenuhi cahaya dari lampu botol minyak ayng dipasang oleh warga muslim.
Pemasangan lampu di halaman rumah penduduk dan di jalan-jalan terutama jalan menuju masjid ini menandakan berakhirnya ramadhan di Gorontalo.
Setiap keluarga memasang lampu sesuai dengan jumlah anggota keluarga.
Tradisi yang telah diturunkan sejak abad ke-15 ini bertujuan untuk mengapresiasi umat muslim yang sudah menjalankan puasa dengan baik.
Selain 7 tradisi yang telah dibahas di atas, masih banyak tradisi lainnya yang tersebar di seluruh Indonesia.
Tradisi tersebut nggak bisa dibandingkan satu sama lain, karena semuanya memiliki keunikan serta makna sendiri. (Grid.ID/Veronica Sri Wahyu W)
Artikel ini sudah tayang di laman Grid.ID dengan judul Dari Tradisi Pukul Sapu Sampai Bakar Gunung Api, 7 Tradisi Unik Perayaan Idul Fitri Ini Cuma Ada di Indonesia!

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!