zoom-in lihat foto Gen yang Bikin Orang Doyan Makan Manis Ternyata Bisa Turunkan Lemak Tubuh, Tapi Ini Bahayanya
Ilustrasi

TRIBUNJUALBELI.COM - Sebuah studi menemukan hasil penelitian yang mengejutkan.

Ternyata gen yang membuat seseorang doyan makan makanan manis dikaitkan dengan lemak tubuh yang lebih rendah.

Hal ini jelas berbeda dengan persepsi orang selama ini tentang seseorang yang doyan manis identik dengan obesitas.

Dilansir dari WebMD ppada Kamis (12/4/2018), para peneliti justru merasa terkejut ketika mendapatkan versi penemuan tersebut.

“Kami terkejut ketika mendapati bahwa versi dari gen yang diasosiasikan dengan memakan lebih banyak gula ternyata juga diasosiasikan dengan lemak tubuh yang lebih rendah,” kata salah satu anggota tim peneliti yang juga pakar genetika molekuler di University of Exeter, Inggris, Timothy Frayling.

Frayling juga melanjutkan bahwa hal ini sangatlah berlawanan dengan persepsi bahwa memakan gula buruk untuk kesehatan.

Gen yang membuat seseorang doyan makan makanan manis ini ternyata juga bisa mengurangi lemak badan karena allele yang sama juga menurunkan konsumsi protein dan lemak pada pola makan.

Namun, versi A dari gen FGF21 yang dipelajari oleh para peneliti tidak sepenuhnya memiliki efek baik bagi tubuh.

Para peneliti juga menemukan bahwa meskipun gen ini dapat menurunkan lemak tubuh, tapi ini juga mendistribusikan lemak tubuh ke bagian atas.

Padahal, tumpukan lemak tubuh menjadi lebih berbahaya ketika berada di bagian tubuh bagian atas daripada bagian bawah.


2 dari 2 halaman

Risikonya termasuk penambahan lingkar perut, tekanan darah tinggi, dan diabetes tipe 2.

Hal itu dijelaskan dalam jurnal Cell Report, para peneliti menganalisis data 451.099 individu yang terdaftar pada UK Biobank, dan mengambil sampel urine, darah dan air liur.

Para peneliti mengamati secara khusus hubungan antara berbagai variasi dari gen FDF21 dengan diet, komposisi tubuh, dan tekanan darah.

“Karena studi ini melibatkan banyak orang, kami merasa percaya diri dengan asosiasi yang kami temukan,” ujar anggota tim peneliti lain, Niels Grarup dari University of Copenhagen, Denmark.

Para peneliti pun berharap untuk dapat mencari penjelasan mengenai mekanisme cara kerja versi A dari gen FGF21 dan memanfaatkannya untuk mencari obat baru.

“Studi kami bisa beralih fokus ke usaha untuk mengungkap semua manfaat potensial dan efek samping dari memanipulasi hormon ini,” ujar Frayling.

(TribunJualBeli.com/Intan Hafrida)

Selanjutnya