TRIBUNJUALBELI.COM - Duka masih menyelimuti Opick dan keluarga.
Istri keduanya, Wulan Mayasari meninggal dunia pada Senin (19/3/2018) kemarin.
Usai pemakaman yang berlangsung pada siang harinya, Opick pun buka suara terkait penyebab kematian sang istri.
Wulan mengembuskam napas terakhir usai mengalami keguguran pada dua bulan lalu.
Putranya yang berusia delapan bulan meninggal dalam kandungan.
Rekan Opick, Ustaz Derry Sulaiman juga memberikan pernyataan yang sama.
Dilansir dari media online nasional, Ustaz Derry juga menyebut jika istri kedua Opick meninggal setelah menjalani pemulihan pasca kuretase.
Kondisi Wulan menurun saat usai kuret dan harus keluar masuk rumah sakit.
"Habis itu kondisi istrinya drop. Keluar masuk rumah sakit terus diopname. Keluar sehat, masuk sakit lagi," kata Derry.
Kehilangan calon buah hati menjadi hal yang sangat berat untuk siapapun, tak terkecuali bagi Opick dan istri.
Dalam beberapa keadaan, ada ibu yang harus kehilangan janinnya sehingga harus merasakan proses kuretase atau kuret.
Proses itulah yang telah dijalani mendiang Wulan.
Kuretase memang merupakan pilihan yang sangat berat.
Bukan cuma harus kehilangan janin namun juga proses yang dijalankan amat berat.
Si ibu harus menyiapkan hati, mental dan fisik pula untuk melakukan proses kuret.
Kuret ternyata tidak selalu dilakukan saat ibu keguguran.
Kuret juga bisa dilakukan untuk mendiagnosis suatu penyakit, seperti pendarahan pada uterus, pendarahan setelah menopous, atau ketika ibu mengalami polip rahim dan kanker rahim.
Kuret sendiri dalam bahasa medis dikenal dengan nama D&C (dilation and curettage), dalam Bahasa Indonesia disebut dengan dilasi dan kuretase.
Kuret merupakan tindakan bedah pengerukan dinding rahim.
Tujuannya untuk membersihkan rahim dari sisa janin, mengatasi plasenta yang melekat pada rahim, hamil anggur, dan perdarahan setelah lewat menopause.
Kuret penting dilakukan supaya kesehatan Ibu, terutama organ reproduksinya, kembali pulih.
Karena jika sisa-sisa janin dibiarkan di dalam rahim, selain muncul gangguan kesehatan, seperti: perdarahan dan sakit perut, juga dikhawatirkan akan muncul penyakit berbahaya, semisal kanker.
Dikutip dari Mayo Clinic, saat melakukan dilatasi dan kuret, dokter akan menggunakan langkah kecil untuk membuka rahim.
Bisa menggunakan obat perangsang ataupun alat.
Sebab leher rahim ibu tentu tidak terbuka sendiri setelah mengalami keguguran.
Pada saat melahirkan, tubuh ibu secara otomatis merangsang pelebaran leher rahim dan juga dengan bantuan dari dorongan kepala bayi.
Sedangkan, pada saat keguguran, tubuh ibu tidak merangsang pelebaran leher rahim, sehingga perlu dilakukan dilatasi untuk membuka leher rahim.
Dokter kemudian menggunakan alat bedah yang disebut kuret, untuk mengangkat jaringan rahim.
Alat kuret yang digunakan dalam D&C ini bisa tajam atau menggunakan alat isap.
Lalu bagaimana prosesnya?
Proses kuret terdiri dari beberapa prosedur, yaitu sebelum, selama dan setelah.
Sebelum Prosedur
Sebelum dilakukan kuret, pasien akan mendapat instruksi dokter untuk membatasi makanan dan minuman.
Dalam beberapa kasus, dokter mungkin memulai proses pelebaran serviks beberapa jam atau bahkan sehari sebelum prosedur.
Hal ini akan membantu rahim terbuka secara bertahap, dan biasanya dilakukan saat rahim perlu dilatasi lebih dari pada D&C standar.
Seperti saat penghentian kehamilan atau dengan jenis histeroskopi tertentu.
Dokter biasanya menggunakan obat yang disebut misoprostol (Cytotec).
Obat itu diberikan secara oral atau vaginal untuk melembutkan leher rahim.
Biosa juga dengan memasukkan batang ramping yang terbuat dari laminaria ke dalam rahim.
Laminaria secara bertahap mengembang dengan menyerap cairan di rahim sehingga rahim terbuka.
Untuk dilatasi dan kuretase, pasien akan menerima anestesi.
Pilihan anestesi tergantung pada alasan D&C dan riwayat kesehatan.
Bentuk anestesi lainnya memberikan sedasi ringan atau menggunakan suntikan untuk mematikan hanya area kecil (anestesi lokal), atau daerah yang lebih luas (anestesi regional) pada tubuh.
Selama prosedur
Pasien berbaring telentang di atas meja operasi sementara tumit berada di tempat yang disebut sanggurdi.
Dokter akan memasukkan alat yang disebut spekulum ke dalam vagina, seperti saat tes Pap Smear untuk melihat serviks.
Lalu dokter memasukkan serangkaian batang yang lebih tebal ke dalam serviks untuk perlahan melebarkannya sampai cukup terbuka.
Setelah itu alat dilatasi dikeluarkan dan memasukkan alat berbentuk sendok dengan tepi tajam, atau alat hisap dan menghilangkan jaringan rahim.
Karena tidak sadar atau terbius selama D&C, seharusnya tidak akan merasakan sakit apapun.
Setelah prosedur
Setelah melakukan kuret, pasien tinggal beberapa jam di ruang rawat agar dokter dapat memantau jika terjadi pendarahan atau ada komplikasi lain pasca kuret.
Beberapa jam itu juga digunakan untuk memulihkan fisik akibat efek anastesi.
Jika pasien mendapati general anastesi, mungkin akan merasakan mual atau muntah.
Bisa pula mengalami sakit tenggorokan.
Efek samping kuret yang normal akan terasa beberapa hari kemudian, efeknya yaitu kram ringan dan flek.
Untuk mengatasi efek samping itu, dokter mungkin akan memberikan obat ibuprofen (Advil, Motrin I atau obat lainnya.)
Pasien akan dapat beraktivitas kembali setelah 1 atau 2 hari pasca kuret.
Perlu diingat, setelah melakukan kuret jangan dahulu memasukan apapun atau berhubungan intim dengan suami.
Hal ini untuk menghindari masuknya kuman atau penyebaran penyakit lainnya.
Konsultasikan pada dokter jika menggunakan tampon atau ingin melanjutkan aktivitas seksual.
Sebab rahim harus membangun kembali lapisan baru setelah kuret.
Maka siklus menstruasi selanjutnya mungkin akan mundur.
Jika mengalami kuret karena keguguran, dan ingin hamil lagi, bicarakan dengan dokter kapan waktu yang tepat dan aman untuk mulai mencoba lagi.
(TribunJualBeli.com/ Alieza Nurulita)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!